JOGJA - Penanganan stunting di Kota Jogja sepanjang 2025 diklaim mendapatkan hasil positif.
Pada awal 2026, Dinas Kesehatan mencatat penurunan prevalensi stunting hingga enam persen dibandingkan tahun sebelumnya.
Kepala Dinas Kesehatan (Dinkes) Kota Jogja Emma Rahmi Aryani mengatakan, di bulan Januari pihaknya mencatat prevalensi stunting telah menyentuh angka 8,76 persen.
Baca Juga: Tak Boleh Main Karaoke Saat Puasa! Ini Aturan Baru Pemkab Kulon Progo..
Turun signifikan dibandingkan tahun 2025 yang prevalensinya mencapai 14,8 persen.
Menurut Emma, keberhasilan penanganan stunting membutuhkan kolaborasi lintas sektor.
Sebab jika hanya dibebankan kepada dinas kesehatan tingkat keberhasilannya hanya mampu mencapai 30 persen.
Baca Juga: Gegara Ledakan Obat Petasan di Suryodiningratan, Balita dan Dua Orang Dewasa Dibawa ke RS
Sementara 70 persen harus didukung lewat program pemberdayaan masyarakat, pertanian, dan pendidikan.
Emma yakin, dengan kerjasama yang baik dengan berbagai pihak maka bukan tidak mungkin prevalensi stunting di Kota Jogja bisa terus diturunkan.
Sebab dukungan dari berbagai sektor dapat membuat hasil penanganan lebih optimal.
“Kalau hanya dari dinas kesehatan saja, tidak mungkin selesai. Harus dikeroyok bersama oleh semua pihak,” tegasnya.
Baca Juga: Kuasa Hukum Layangkan Surat ke Bupati Kebumen, Minta Ikut Urai Sengketa Tanah Satlantas
Wali Kota Jogja Hasto Wardoyo menyampaikan penurunan prevalensi stunting patut diapresiasi.
Namun dia menekankan agar upaya penanganan kasus balita kurang gizi tersebut bisa terus diperkuat dengan pendekatan yang lebih detail dan berbasis data.
Hasto tidak menampik bahwa keberhasilan penanganan stunting di Kota Jogja tidak lepas dari dukungan dana keistimewaan.
Baca Juga: PSS Sleman Libur Kompetisi, Hanya Cleberson dan Ferrel Yang Absen
Oleh karena itu dia akan mengevaluasi program penanganan stunting supaya tidak lagi bergantung pada alokasi anggaran tersebut.
Mantan Bupati Kulon Progo itu mengaku akan merubah program penanganan stunting yang selalu berbasis anggaran.
Menjadi penanganan stunting yang diatasi secara by name by address agar lebih tepat sasaran.
“Sekarang ini harus lebih maju lagi, lebih detail lagi. Jadi stunting itu harus betul-betul terkawal,” katanya. (inu)
Editor : Winda Atika Ira Puspita