JOGJA – Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) memprediksi musim kemarau tahun 2026 akan tiba lebih awal, berlangsung lebih lama, serta memiliki intensitas hujan lebih rendah dibandingkan rata-rata klimatologi.
Prediksi ini menunjukkan bahwa sebagian wilayah Indonesia mulai memasuki musim kemarau pada April 2026, dengan puncak kemarau terjadi pada Agustus 2026 di mayoritas wilayah.
Kondisi kemarau yang lebih panjang dan kering ini berpotensi berdampak signifikan terhadap sektor pertanian, khususnya yang bergantung pada air hujan dan irigasi.
Gagal tanam hingga gagal panen menjadi ancaman nyata yang dapat menurunkan produksi pangan nasional.
Dosen Fakultas Teknologi Pertanian Universitas Gadjah Mada (UGM), Bayu Dwi Apri Nugroho, menekankan bahwa prediksi BMKG ini menjadi pengingat penting bagi pelaku usaha pertanian.
Dampak perubahan iklim, termasuk kemarau panjang maupun hujan ekstrem, langsung memengaruhi keberlangsungan sektor pertanian.
“Kemarau yang panjang menyebabkan gagal tanam dan gagal panen, yang ujung-ujungnya tentunya akan menurunkan produksi pertanian,” ungkap Bayu Dwi Apri Nugroho, Selasa (10/3/2026).
Untuk menghadapi musim kemarau 2026 yang lebih kering, Bayu menyarankan adaptasi segera. Kunci utama adalah komunikasi intensif antara petani dan penyuluh pertanian.
Banyak petani masih kurang mendapat informasi akurat tentang kondisi cuaca yang tidak menentu, sehingga pendampingan intensif dari penyuluh menjadi krusial untuk mitigasi risiko gagal tanam dan panen.
“Petani dan penyuluh menjadi kunci sukses di level bawah dalam menghadapi kemarau yang panjang,” jelas pakar agrometeorologi UGM ini.
Bayu juga menekankan pentingnya penyebaran informasi terkini dari BMKG, termasuk peringatan dini kondisi ekstrem, hingga ke tingkat desa.
Informasi cuaca yang akurat dan presisi di level bawah akan membantu petani mengambil keputusan tepat.
Selain itu, penyuluh dapat memberikan rekomendasi komoditas atau varietas tanaman yang cocok ditanam di musim kemarau panjang, seperti tanaman tahan kekeringan.
Lebih lanjut, Bayu berpendapat peran peneliti dari perguruan tinggi seperti UGM dan lembaga penelitian sangat penting.
Mereka diharapkan terus menciptakan inovasi melalui hilirisasi varietas tanaman tahan kekeringan yang membutuhkan air lebih sedikit, namun tetap memberikan produktivitas panen tinggi.
Dengan adaptasi yang tepat, mulai dari pengelolaan air, penyesuaian pola tanam, hingga inovasi varietas, sektor pertanian Indonesia diharapkan lebih tangguh menghadapi kemarau ekstrem 2026.
Pemerintah daerah, penyuluh, dan petani di Yogyakarta serta wilayah lain perlu segera berkoordinasi untuk meminimalkan dampak negatif terhadap ketahanan pangan. (iwa)
Editor : Iwa Ikhwanudin