JOGJA – Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) kembali menegaskan posisinya sebagai pusat industri kreatif dan kerajinan nasional melalui penyelenggaraan Business Matching Industri Kecil Menengah (IKM) Kerajinan 2025.
Acara Temu Bisnis IKM Kerajinan yang diselenggarakan di Hotel Grand Rohan (10/3/2026) ini menjadi bukti nyata kolaborasi erat antara Kementerian Perindustrian RI dan pemerintah daerah dalam memberdayakan pelaku usaha lokal.
Kepala Dinas Perindustrian, Perdagangan, Koperasi, dan UKM DIY, Yuna Pancawati, menyampaikan apresiasi atas terselenggaranya kegiatan ini.
Menurutnya, inisiatif tersebut mencerminkan komitmen bersama pusat dan daerah untuk membina sektor IKM kerajinan, yang tidak hanya menjadi penopang ekonomi tetapi juga identitas budaya khas Yogyakarta.
Berdasarkan data terkini, DIY memiliki 98.408 unit IKM tersebar di lima sektor utama: pangan, sandang dan kulit, kimia serta bahan bangunan, kerajinan, serta logam dan elektronika.
Khusus sektor kerajinan, terdapat 14.739 unit usaha yang berperan penting dalam ekonomi kreatif daerah.
Kinerja ekspor DIY sepanjang 2025 mencatat peningkatan positif dengan total nilai mencapai 558,72 juta USD, naik 2,14% dibanding tahun sebelumnya.
Kontribusi terbesar berasal dari industri pengolahan (99,02%), dengan produk unggulan seperti tekstil, kulit, dan kerajinan.
Pasar ekspor didominasi Amerika Serikat (43,68%), Uni Eropa (24,14% – terutama Jerman), Jepang (7,31%), serta ASEAN (2,11% – terutama Thailand).
Tren ini menunjukkan produk kerajinan DIY yang kaya nilai budaya semakin diterima di pasar internasional.
Dalam acara tersebut, Direktur Jenderal Industri Kecil, Menengah, dan Aneka (IKMA) Kementerian Perindustrian, Reni Yanita, menekankan perlunya perubahan pola pikir dalam mengembangkan industri kreatif.
Ia menyoroti pentingnya fasilitasi bagi pekerja kreatif agar ide dapat langsung diwujudkan dengan dukungan sarana memadai.
Yogyakarta memiliki ekosistem industri kreatif yang lengkap, termasuk Pusat Desain Industri Nasional (PDIN) yang dilengkapi mesin dan peralatan modern, balai kerajinan dan batik, balai kulit karet plastik, Balai Diklat Industri (BDI), serta Politeknik Akademi Teknik Kulit (ATK).
Keberadaan universitas besar seperti UGM dan komunitas pengrajin lokal semakin memperkuat posisi DIY.
Reni menambahkan, daerah ini memiliki bahan baku melimpah seperti keramik di Bantul, bambu, kulit, hingga batik – potensi besar yang harus dimaksimalkan.
Meski demikian, kendala utama masih pada pemasaran.
Kemenperin terus mendampingi pelaku IKM agar memahami produksi standar dan strategi penjualan, termasuk di era digital.
Pasar tidak lagi terbatas lokal, melainkan nasional hingga internasional, termasuk permintaan custom dari hotel di Kalimantan atau proyek di Ibu Kota Nusantara (IKN).
Secara nasional, ekspor IKM pada 2025 meningkat sekitar 15% dibanding 2024, dengan produk kerajinan Indonesia unggul karena keunikan dan karakteristiknya.
Pasar utama meliputi Eropa, Amerika, Jepang, Taiwan, China, dan Korea.
Produk kecil seperti sendok kayu food grade dan keranjang penyimpanan sangat diminati di Jepang, sementara keranjang dekorasi dan storage laris untuk kebutuhan rumah serta hotel.
Kemenperin juga memfasilitasi partisipasi IKM di pameran internasional seperti Ambiente di Jerman, dengan dorongan tampil minimal tiga kali untuk membangun kepercayaan buyer.
Kunjungan langsung ke workshop pengrajin di Yogyakarta menjadi bukti kapasitas produksi yang konsisten.
Business Matching IKM Kerajinan 2025 diharapkan meningkatkan daya saing, akses pasar, koneksi bisnis, serta peluang kerjasama.
Baca Juga: Fasilitasi Mudik Gratis, Pemprov Jateng Siapkan 346 Bus dan 17 Rangkaian Kereta Api
Kegiatan ini menjadi wadah berbagi pengetahuan antar pelaku usaha, sekaligus memperkuat ekosistem lokal dan citra daerah.
Dengan sinergi pusat-daerah, ekosistem lengkap, serta tren ekspor positif, Yogyakarta berpotensi menjadi pusat industri kreatif nasional yang kompetitif di tingkat global.
Pelaku IKM dan pengrajin Jogja diharapkan terus memanfaatkan momentum ini untuk naik kelas. (iwa)
Editor : Iwa Ikhwanudin