Jogja Sleman Bantul Gunungkidul Kulon Progo Sport Jogja 24 Jam Weekend Jateng Nusantara Internasional Ekonomi Education Expo Ramadan Sosok Opini Visual Report Urban Legend

Imbas Perang AS-Israel vs Iran, Kerajinan Perak Kotagede Jogja Lesu Akibat Sulit Ekspor

Iwan Nurwanto • Senin, 9 Maret 2026 | 13:16 WIB

Perajin perak Kotagede saat membuat kerajinan perak pada Senin (9/3/2026). Sektor usaha tersebut cukup terdampak situasi perang AS-Israel dengan Iran.
Perajin perak Kotagede saat membuat kerajinan perak pada Senin (9/3/2026). Sektor usaha tersebut cukup terdampak situasi perang AS-Israel dengan Iran.

JOGJA - Industri kerajinan perak Kotagede, Kota Jogja kini tengah menghadapi masa-masa genting. Lantaran situasi geopolitik global, yakni perang antara Amerika Serikat-Israel dengan Iran memicu penurunan drastis pada volume ekspor.

Hal itu dirasakan Umi Nurhasanah, pemilik usaha kerajinan perak Umi Silver ini mengaku sangat merasakan dampak dari situasi perang. Sebab komoditas perak yang selama ini diekspor ke sejumlah negara mengalami pemerosotan.

Umi membeberkan, negara tujuan ekspor bagi kerajinan perak Kotagede meliputi Australia, Amerika, dan Turki untuk skala Eropa dan Timur Tengah. Kemudian di Asia ada negara seperti Thailand.

Bulan lalu usahanya mampu mengekspor kerajinan perak dalam skala kiloan ke sejumlah negara tersebut. Namun akibat kondisi perang, kini hanya mampu mengirimkan kerajinan perak dalam skala bijian. Berkisar antara 10 sampai 25 biji dengan jenis kerajinan perak seperti gelang, cincin dan liontin. 

Itupun negara Selandia Baru yang memesan. Sementara negara-negara yang sebelumnya menjadi langganan sudah berhenti memesan.

“Dulu yang paling kencang itu Turki, penurunannya luar biasa dan orderan hampir tidak ada yang masuk. Kalaupun ada, jumlahnya sedikit sekali,” ujar Umi kepada Radar Jogja, Senin (9/3/2026).

Selain karena situasi geopolitik global, lesunya pasar ekspor kerajinan perak Kotagede juga disebabkan kenaikan harga bahan baku perak yang signifikan. Saat ini harga perak mentah berkisar antara Rp 70 sampai 100 ribu per gram. Tergolong cukup tinggi bagi perajin.

Akibat kombinasi dua faktor itu, Umi mengaku terpaksa mengurangi jumlah perajin yang bekerja di usahanya. Semula ada 10 karyawan yang bekerja sama dengannya. Tapi kini hanya tersisa dua orang saja.

Menyiasati ketidakstabilan pasar ekspor kerajinan perak, Umi mulai melirik pasar lokal. Sebab minat masyarakat terhadap perhiasan perak mulai meningkat. Dia pun berharap kondisi global segera membaik dan harga bahan baku kembali stabil agar denyut nadi industri kerajinan perak bisa kembali normal.

“Banyak pengrajin yang pusing dan mengeluh karena dampaknya merata di daerah Kotagede,” ungkapnya.

Sementara itu, Kepala Dinas Perdagangan dan Perindustrian (Disperindag) DIY Yuna Pancawati tidak menampik situasi perang global cukup berdampak pada pasar ekspor. Khususnya di sektor industri kreatif dan kerajinan.

Yuna menyebut, dampak juga mulai terlihat dari menurunnya kehadiran pembeli internasional dalam sejumlah pameran besar. Seperti INACRAFT 2026 dan Jogja International Furniture & Craft Fair Indonesia (JIFFINA) 2026.

Menurutnya, pembeli internasional l membatalkan perjalanan mereka ke Indonesia karena situasi keamanan global. Hal tersebut menjadi kendala bagi perajin untuk bertemu langsung dengan calon pembeli. Namun komunikasi secara daring masih terus diupayakan.

Yuna menyebut agar eksportir asal Jogjakarta terus melakukan langkah antisipatif. Misalnya dengan melakukan rekayasa jalur pengiriman. Jika biasanya transit di Timur Tengah atau melewati Terusan Suez, maka sekarang diarahkan melalui jalur lain agar produk tetap sampai ke pasar Eropa.

"Kami berencana memberikan pasar untuk bisa ke negara-negara non-tradisional, sehingga mungkin yang biasanya ke Eropa pasti mampir di Timur Tengah untuk transit, kalau bisa transitnya enggak ke Timur Tengah, gitu mungkin," beber Yuna. (inu)

 

Editor : Iwa Ikhwanudin
#perak #perajin perak #perang iran #kotagede