Jogja Sleman Bantul Gunungkidul Kulon Progo Sport Jogja 24 Jam Weekend Jateng Nusantara Internasional Ekonomi Education Expo Ramadan Sosok Opini Visual Report Urban Legend

Langgar Dhuwur Purbayan Kotagede Jogja Jadi Pusat Warga untuk Belajar Alquran,  Memiliki Nilai Sejarah Indah Anak-Anak Zaman Dulu

Adib Lazwar Irkhami • Minggu, 12 April 2026 | 00:00 WIB

 

Langgar Dhuwur Purbayan Kotagede Jogja Jadi Pusat Warga untuk Belajar Alquran,  Memiliki Nilai Sejarah Indah Anak-Anak Zaman Dulu
Langgar Dhuwur Purbayan Kotagede Jogja Jadi Pusat Warga untuk Belajar Alquran,  Memiliki Nilai Sejarah Indah Anak-Anak Zaman Dulu

 

JOGJA - Di balik gang-gang sempit Kelurahan Purbayan, Kotagede, terselip sebuah bangunan yang memiliki sejarah bagi umat muslim di wilayah itu.

Salah satu Langgar Dhuwur yang terletak di Kampung Buharen itu dulu menjadi pusat kegiatan masyarakat dalam belajar agama. 

 

 Pemilik Langgar Dhuwur Purbayan Achmad Charris Zubair menjelaskan, bangunan yang dididirkan pada 1870 oleh kakeknya itu merupakan pusaka keluarga sekaligus saksi bisu akulturasi budaya di tanah Mataram.

Sebab, secara arsitektur Langgar Dhuwur merupakan anomali yang indah, berbentuk panggung, dan bangunan ini tidak menapak tanah, sebuah ciri khas yang mulai punah di Kotagede.

"Tata ruangnya tak lepas dari konsep Hindu Tri Hita Karana. Ada bawangan (rumah), palemahan (halaman), dan pahiyangan (langgar)," katanya kepada Radar Jogja, Minggu (8/3/2026).

Menurut Charris, meski fungsinya memang untuk salat, Langgar dhuwur memiliki akulturasi yang sangat kuat. Mengingat, kata langgar sendiri berasal dari sanggar atau tempat sembahyang. Di masa lalu, orang Jawa menyebut salat sebagai sembahyang di langgar.

Dulu, lanjut Charris, di Kotagede sendiri setidaknya memiliki tujuh Langgar Dhuwur. Kini jumlahnya menyusut drastis. Hanya tersisa dua, satu di Kampung Buharen dan satunya lagi di Celenan, Jagalan, Banguntapan.

Bagi warga sekitar, langgar-langgar itu punya ikatan emosional yang kuat. Charris mengenang pada medio 1960-an, saat ia masih kecil, langgar itu menjadi pusat warga untuk belajar Alquran hingga tempat favorit anak-anak kampung untuk numpang tidur.

Namun romantisme itu kini terbentur realita fisik. Sejak 2017 lalu, kegiatan ibadah seperti tarawih terpaksa dihentikan. Alasannya klasik, yakni kayu penyangga, terutama yang berada di atas sumur, sudah mulai keropos.

"Sudah hampir 150 tahun difungsikan. Sekarang kondisinya rapuh. Kalau dinaiki ya cukup berbahaya. Apalagi jamaah yang sepuh-sepuh, sudah tidak kuat kalau harus naik turun tangga," bebernya. 

Baca Juga: Peran Striker Asing Gustavo Tocantins dan Kolektivitas Tim Jadi Kunci PSS Sleman

Bangunan rumah tradisional Jawa ini dulunya didirikan oleh M. Haji Mukmin, kakek dari Charris Zubair yang merupakan seorang pedagang kain dan lawe serta agen mori Cap Sen. Kompleks rumah ini berdiri di atas tanah seluas 1.072 m2 yang terdiri atas bangunan induk dan sebuah langgar kayu berbentuk panggung. 

Walaupun milik pribadi, bangunan Langgar Dhuwur itu juga terbuka bagi masyarakat yang ingin beribadah. Status Langgar Dhuwur kini sebenarnya sudah sebagai bangunan cagar budaya (BCB) tingkat kota.

Namun bagi Charris, status itu tak cukup untuk menahan laju pelapukan. Oleh sebab itu, sebagai pengelola, Charris mengaku sudah mengajukan permohonan renovasi, karena tingkat kerusakannya yang mulai mengkhawatirkan.

Sebab, baginya langgar ini bukan sekadar urusan memaku kayu yang lepas. Ini adalah soal merawat pelajaran sejarah tentang bagaimana manusia di masa lalu hidup harmoni dengan alam dan Tuhan.

"Bukan berarti kami sebagai pemilik lepas tanggung jawab. Tapi karena sudah ditetapkan sebagai cagar budaya, ini menjadi tanggung jawab bersama," tandas budayawan Kotagede ini.

Maka dari itu, Charris sendiri berharap ketika Langgar Dhuwur  nanti sudah direnovasi, bangunan itu bisa diaktifkan kembali sebagai tempat salat, walaupun sudah ada musalah-musalah baru di sekitar wilayahnya. 

"Setidaknya bisa merasakan salat di satu bangunan lama yang kemudian, di samping beribadah, kami juga bisa mengenang dan juga belajar sejarah masa lalu. Jadi mudah-mudahan pemerintah juga, karena sudah ditetapkan sebagai bangunan cagar budaya level kota, mestinya juga punya perhatian untuk ini," tandasnya. (ayu/laz)

 

 

Editor : Herpri Kartun
#Budaya #langgar dhuwur #mataram #islam #kotagede