JOGJA - Pemerintah Kota (Pemkot) Jogja akan mengintegrasikan pengembangan Warung Milik Rakyat (Wamira) dengan Koperasi Kelurahan Merah Putih (KKMP).
Wamira ditargetkan bisa menjadi salah satu bisnis gerai bahan pokok yang dikelola di bawah naungan KKMP.
Wali Kota Jogja Hasto Wardoyo mengatakan, Wamira akan mendekatkan layanan kepada masyarakat mendapatkan harga bahan pokok sesuai harga eceran tertinggi (HET) dan mengendalikan inflasi.
Dengan integrasi Wamira dan KKMP, keberadaannya tidak saling bersaing tapi bersinergi.
“Kami ingin menambah banyak warung ini di kelurahan-kelurahan. Warung ini menjadi bagian warung milik rakyat,” kata Hasto saat giat di Kantor Dinas Lingkungan Hidup Kota Jogja belum lama ini.
Hasto menyebut, ini sebagai salah satu upaya ketahanan pangan di tengah kota. Di mana Jogja yang tidak memiliki lahan pertanian luas seperti Sleman, Bantul, Kulon Progo, dan Gunungkidul. Maka keberadaan Wamira diproyeksikan bisa untuk mengendalikan inflasi.
Pemkot Jogja selama ini memiliki Kios Segoro Amarto di beberapa pasar untuk mengendalikan inflasi dengan menjual pangan sesuai HET.
Pada tahun ini kami akan mengembangkan warung serupa Kios Segoro Amarto di kelurahan dengan nama Wamira.
Hasto menyatakan, keberadaan Wamira juga nanti menjadi distribusi pangan seperti beras dari Bulog dan maupun bantuan pangan murah dari Bank Indonesia.
Menurutnya dengan keberadaan Wamira ke depan, pengendalian inflasi daerah tidak hanya melalui operasi pasar, Kios Segoro Amarto di pasar tapi juga di tengah-tengah masyarakat.
“Insya Allah dengan cara begitu, maka continuing sustainability-nya bagus, bisa menahan inflasi di Kota Jogja,” ujarnya.
Sementara itu Kepala Dinas Perindustrian Koperasi dan UKM Kota Jogja Tri Karyadi Riyanto Raharjo menyampaikan, sudah ada koordinasi dengan dinas terkait mengenai pengembangan Wamira yang akan terintegrasi dengan KKMP.
Dia menyebut salah satu bisnis dari KKMP di Kota Jogja ada yang mengembangkan gerai sembako. Gerai tersebut akan diintegrasikan dengan Wamira.
“Itu nanti KKMP, gerainya ada Gerai Wamira. Berarti ini sinergi. Jadi antara Wamira dengan KKMP tidak berdiri sendiri-sendiri. Saling melengkapi,” tambahnya.
KKMP memiliki fungsi mengagregasi, mengumpulkan produk-produk UMKM. “Nah, harapannya itu nanti KKMP bisa menyuplai juga produknya di Wamira,” terang Tri Karyadi saat dikonfirmasi, Jumat (6/3/2026).
Sebelumnya Kepala Dinas Perdagangan (Disdag) Kota Jogja Veronica Ambar Ismuwardani menjelaskan, Wamira bukan milik korporasi.
Pengelolaannya diutamakan oleh koperasi maupun kelompok masyarakat, dan berlokasi di gang atau permukiman warga agar dekat dengan masyarakat.
Dalam Wamira juga akan banyak dukungan meskipun dimungkinkan dari APBD tidak banyak. Namun pemkot bisa mencarikan mitra dari korporasi maupun kampus untuk masuk ke Wamira.
“Saya kira jadi peluang juga untuk teman-teman Koperasi Merah Putih untuk masuk ke dunia ritel kerakyatan. Wamira memberikan peluang untuk membuat unit usaha Wamira,” paparnya.
Dia menyebut dari percontohan lima Wamira nantinya, beberapa sudah melibatkan Koperasi Merah Putih yang sebelumnya memiliki pengalaman bisnis ritel.
Syarat pengajuan unit usaha Wamira antara lain memiliki tempat usaha dan embrio ritel akan diprioritaskan.
Dari percontohan lima Wamira sudah memiliki produk barang yang dijual. Disdag pun akan membantu Wamira untuk bermitra dengan distributor dan Bulog.
Pengelola Wamira juga harus menandatangani pakta integritas untuk memjual produk sesuai HET.(wia)
Editor : Winda Atika Ira Puspita