JOGJA - Pameran temporer bertajuk Smarabawana yang digelar di KgD Pagelaran Keraton Jogja resmi dibuka untuk umum Minggu (8/3). Kegiatan yang menjadi rangkaian Tingalan Jumenengan Dalem Hamengku Buwono X yang ke-37 ini turut dibuka oleh Raja Keraton Ngayogyakarta Hadiningrat Sri Sultan Hamengku Bawono Ka 10 Sabtu (7/3).
Pameran ini bisa dinikmati oleh publik hingga Agustus. Masyarakat dapat belajar terkait arsitektural ada di Keraton Ngayogyakarta Hadiningrat.
Penghageng Kawedanan Hageng Punakawan Nitya Budaya GKR Bendara menjelaskan, pameran temporer Smarabawana: Tata Ruang Kasultanan Yogyakarta ini bertujuan untuk mendorong semangat pelestarian dan pemanfaatan atas wilayah dari tanah Kasultanan Ngayogyakarta dalam berbagai bidang.
Menurut GKR Bendara, topik arsitektur, tata ruang, dan wilayah Kasultanan Ngayogyakarta menjadi gagasan utama yang memerlukan strategi khusus dalam penyajian pameran kali ini. Sebab, tata ruang dan wilayah merupakan benteng alam terbuka dengan leluasa lanskap yang terus tumbuh dari masa ke masa.
"Melalui pendekatan environmental artistic design, setiap ruang pamer akan mengajak pengunjung dalam pengalaman artistik partisipatoris. Sementara itu, diseminasi komprehensif dari setiap topik nantinya akan didalami dalam Symposium International Budaya Jawa di bulan April," bebernya Minggu (8/3).
Menurutnya, pameran temporer ini relevan dalam menerjemahkan Projo Mataram Yogyakarta pasca-Perjanjian Giyanti. Sebab, dari kesatuan tata ruang dan wilayah, dialog yang menghubungkan konteks material-filosofi ditemukan dalam pembangunan fisik maupun pembangunan mental manusia Jawa.
Hal tersebut juga tercermin dalam pemahaman Sedulur Papat Limo Pancer dan Dewoto Nawa Sanga yang menempatkan setiap lokus hidup memiliki nilai. "Di sisi lain, pameran ini juga menyajikan pandangan umum yang dianggap wajar dan terlupakan sebagai memori kolektif masyarakat Jawa Yogyakarta," tuturnya.
Sebelumnya, HB X menjelaskan, sejak awal berdirinya Kasultanan Ngayogyakarta pada tahun 1755. Tata ruang tidak semata dipahami sebagai persoalan geografis atau arsitektural. Namun tata ruang dipandang sebagai manifestasi pandangan hidup tentang cara manusia menempatkan dirinya di tengah hubungan antara alam, masyarakat, dan yang Ilahi.
"Falsafah itu hanyut dengan pemikiran Plato yang menjelaskan bahwa kota adalah jiwa manusia yang diperbesar dalam ruang dan dalam ruang itulah nilai, keyakinan, dan kebijaksanaan suatu peradaban tercermin," ucapnya.
Dengan demikian, lanjut HB X, tata ruang tidak sekadar dipahami sebagai planologi, melainkan sebagai cerminan kosmologi kehidupan. "Dalam kebudayaan Yogyakarta, pemahaman tentang ruang juga memuat dimensi spiritual dan kosmologis yang menautkan manusia dengan alam semesta," katanya. (*/ayu/eno)
Editor : Sevtia Eka Novarita