Jogja Sleman Bantul Gunungkidul Kulon Progo Sport Jogja 24 Jam Weekend Jateng Nusantara Internasional Ekonomi Education Expo Ramadan Sosok Opini Visual Report Urban Legend

Rangkaian Tinggalan Jumenengan Dalem Sri Sultan HB X yang Ke-37, Pameran Smarabawana Tawarkan Narasi Sejarah Tanah Merdeka Pasca-Perjanjian Giyanti

Rizky Wahyu Arya Hutama • Sabtu, 7 Maret 2026 | 20:45 WIB

Sri Sultan Hamengku Buwono (HB) X secara resmi telah membuka pameran temporer bertajuk Smarabawana di KgD Pagelaran Keraton Jogja, Sabtu (7/3)
Sri Sultan Hamengku Buwono (HB) X secara resmi telah membuka pameran temporer bertajuk Smarabawana di KgD Pagelaran Keraton Jogja, Sabtu (7/3)

JOGJA - Gubernur DIY sekaligus Raja Keraton Ngayogyakarta Hadiningrat Sri Sultan Hamengku Bawono Ka 10 membuka pameran temporer bertajuk Smarabawana di KgD Pagelaran Keraton Jogja, Sabtu (7/3). Pemeran ini menandai rangkaian Tinggalan Jumenengan Dalem Sri Sultan Hamengku Buwono X yang ke-37.

Dalam sambutannya, HB X menjelaskan, sejak awal berdirinya Kasultanan Ngayogyakarta pada tahun 1755. Tata ruang tidak semata dipahami sebagai persoalan geografis atau arsitektural. Namun tata ruang dipandang sebagai manifestasi pandangan hidup tentang cara manusia menempatkan dirinya di tengah hubungan antara alam, masyarakat, dan yang Ilahi.

Baca Juga: Satu Dekade JIFFINA 2026: Intip Tren Furniture Ramah Lingkungan di JEC Yogyakarta, Targetkan Ratusan Buyer Global

"Falsafah itu hanyut dengan pemikiran Plato yang menjelaskan bahwa kota adalah jiwa manusia yang diperbesar dalam ruang dan dalam ruang itulah nilai, keyakinan, dan kebijaksanaan suatu peradaban tercermin," ucapnya. 

Dengan demikian, lanjut HB X, tata ruang tidak sekadar dipahami sebagai planologi, melainkan sebagai cerminan kosmologi kehidupan. "Dalam kebudayaan Yogyakarta, pemahaman tentang ruang juga memuat dimensi spiritual dan kosmologis yang menautkan manusia dengan alam semesta," katanya. 

Baca Juga: Ringankan Beban Mahasiswa Rantau, UMY Lepas 335 Mahasiswa Pulang Kampung ke Jawa hingga Sumatera 

Smara Bawana atau semara-bawana merujuk pada terminologi ruang dan dunia (jagad) dalam budaya Jawa. Di dalamnya terdapat konsep ruang yang holistik dan merujuk pada elemen primordial catur gatra tunggal dari sebuah tata kota kerajaan yang mutakhir. Secara komprehensif, smara-bawana bukan terminologi statis. Melainkan konstruksi dinamis yang mengintegrasikan dimensi sensorial, spiritual, dan pragmatis. Selaras dengan paradigma post-konstruktivisme dalam studi tata ruang perkotaan Yogyakarta. 

Konsep ini menjadi fondasi epistemologis untuk menganalisis ruang-ruang Jawa mencerminkan kesatuan antara mikrokosmos manusia dan makrokosmos alam, yang menekankan simetri radial dan hierarki spasial yang harmonis.

Baca Juga: MBG Berjamur dan Tak Layak Gizi Masih Marak di Berbagai Daerah, Pengamat UGM Soroti Risiko Kesehatan

Simbolik dalam pandangan yang lebih konkret, semara-bawana menawarkan narasi sejarah tanah merdeka setelah Perjanjian Giyanti hingga proses pembangunan yang berlandaskan filosofis. Konsep sedulur papat lima pancer dan implikasinya dalam penataan kota hingga bangunan Jawa melalui pertimbangan vernakular-ekologis merupakan praktik nyata istilah tata kota paling mutakhir.

 

Jaminan durabilitas dari struktur kota dan bangunan sekaligus ornamentasi mencerminkan spiritualitas Jawa. Di sisi lain, pameran ini juga membawa pengetahuan terbatas atas pertanahan di Yogyakarta, Kali Larangan, hingga paparan budaya Barat sehingga terbentuknya akulturasi budaya pada arsitektur Keraton Ngayogyakarta pasca-pembangunan abad ke-20. 

 

Di pameran ini, setiap pengunjung dari perjalanan estetika ruang-ruang budaya diundang untuk berinteraksi pada zona perifer. Sebuah ruang yang mempertontonkan relasi humanis antara ruang, manusia, dan makhluk hidup di dalamnya melalui pendekatan ruang imersif-partisipatoris. 

 

"Semoga pameran ini menjadi ruang perjumpaan antara pengetahuan, kebudayaan, dan kesadaran kolektif kita sebagai bangsa yang terus merawat warisan peradaban tata ruangnya," tandasnya. (ayu)

Editor : Sevtia Eka Novarita
#perjanjian giyanti #jumenengan dalem #Raja Keraton Ngayogyakarta Hadiningrat Sri Sultan Hamengku Bawono Ka 10 #Sri Sultan Hamengku Buwono X #Pameran #gubernur diy #tata ruang #Smarabawana