SLEMAN - Tingkat kegemaran membaca masyarakat Kabupaten Sleman pada 2025 turun drastis menjadi 55,07 dari sebelumnya 82,81 pada 2024.
Penurunan ini membuat posisi Sleman merosot dari peringkat kedua menjadi ketiga se-DIY.
Kepala Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Kabupaten Sleman Shavitri Nurmala Dewi mengatakan, penurunan terjadi di seluruh kabupaten dan kota di DIY.
Dari yang sebelumnya seluruh wilayah mencatat skor di atas 70, merosot hingga di bawah 60. Penurunan signifikan ini menjadi perhatian khusus.
"Target kami tidak sekadar kenaikan angka, tapi mendukung visi peningkatan kualitas sumber daya manusia," terangnya dalam jumpa pers yang digelar, Kamis (5/3/2026).
Shavitri menilai, kondisi ini dipengaruhi oleh keaktifan penggunaan gadget dan internet yang begitu tinggi.
Hal itu menyebabkan minat terhadap buku, terlebih dalam bentuk konvensional menurun.
Persoalan yang juga jadi perhatiannya adalah masifnya penggunaan kecerdasan buatan (AI) oleh anak-anak dalam memecahkan persoalan.
Kebutuhan akan buku-buku referensi akhirnya juga ikut tergeser. Untuk itu, dia sebut dinas perpustakaan tidak bisa serta-merta sekadar menyediakan buku.
Kegiatan literasi saat ini mesti difokuskan pada ranah edukasi, pemberian referensi dan rekomendasi, hingga dorongan untuk membuat karya secara mandiri.
"Jadi mengalihkan ketergantungan pada gawai dari sekadar konsumsi konten pasif menjadi produksi konten kreatif dan informatif," tambahnya.
Untuk alasan itu pula saat ini dilakukan intensifikasi layanan perpustakaan digital. Shavitri menyebut telah tersedia 5 ribu judul buku lewat kanal Digital Literacy Corner (DLC).
Upaya lainnya mendorong tumbuhnya komunitas literasi, perpustakaan di kalurahan, hingga taman bacaan masyarakat yang kini sudah ada di 35 lokasi.
"Literasi adalah investasi jangka panjang. Harapannya Sleman bisa jadi rumah bagi pemikir, penulis, dan inovator," katanya. (del/wia)
Editor : Winda Atika Ira Puspita