JOGJA - Pengurus Cabang Nahdlatul Ulama (PCNU) dan Pimpinan Daerah Muhammadiyah (PDM) kompak mengecam serangan Amerika Serikat (AS)-Israel ke Iran.
Dua organisasi islam besar itu sepakat mengutuk keras tindakan agresif dan militerisme yang memicu tragedi kemanusiaan.
Wakil Ketua PDM Kota Jogja Akhid Widi Rahmanto mengatakan, konflik antara AS-Israel dengan Iran sebenarnya persoalan lama yang terus berulang.
Namun kini mencapai puncaknya dengan tindak kekerasan nyata terhadap kemanusiaan melalui peperangan.
“Apapun yang namanya kekerasan itu sebenarnya sebuah keputusan terjelek untuk dilakukan,” ujar Akhid saat dikonfirmasi, Kamis (5/2/2026).
Akhid memastikan, bahwa warga Muhammadiyah akan terus dukungan moral dan doa kepada pihak yang menjadi korban.
Namun dia menekankan pentingnya aksi nyata sebagai bentuk protes dan keberpihakan.
Oleh karena itu, PDM Kota Jogja akan mendorong angkatan muda Muhammadiyah mengambil peran untuk menyuarakan isu-isu kemanusiaan.
Terkhusus di tengah masa konflik perang antara AS-Israel dengan Iran saat ini.
“Mendoakan itu wajib, tapi aksi nyata juga perlu. Saya kira perlu ada protes atau aksi kepada pihak yang memiliki kewenangan, karena Jogja ini barometer,” tegas Akhid.
Sementara itu, Ketua PCNU Kota Jogja Yazid Affandi menyatakan sikap tegas dan mengutuk keras tindakan brutal di tengah perang antara AS-Israel dengan Iran.
Empati itu muncul bukan karena ikatan emosional keagamaan tapi lebih kepada aspek kemanusiaan.
Yazid menegaskan, pihaknya merasa sangat prihatin atas tindakan semena-mena yang dilakukan oleh pihak sekutu dan Israel.
Sehingga dia mengajak agar seluruh umat Islam khususnya warga Nahdliyin untuk memperkuat doa demi keselamatan para korban perang.
“Sesuai saran PBNU, warga diharapkan membaca doa qunut nazilah. Ini adalah permohonan kepada Yang Maha Kuasa agar tragedi kemanusiaan ini segera selesai dan tidak berlarut-larut," tambahnya.
Lebih lanjut, Yazid juga mengkhawatirkan jika eskalasi konflik ini terus meluas dapat bisa memicu krisis global yang lebih besar.
Misalnya seperti perang dunia ketiga.
Sehingga dia berharap kekuatan-kekuatan global dapat segera meredam situasi.
Supaya tragedi kemanusiaan yang lebih luas dengan korban yang lebih banyak bisa terhindar.
"Harapan kami hanya satu, agar ini segera reda,” ucap Yazid. (inu)
Editor : Iwa Ikhwanudin