JOGJA - Tingginya aktivitas masyarakat selama bulan Ramadan turut meningkatkan produksi sampah di Kota Jogja. Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kota Jogja pun mencatat, ada peningkatan sebanyak 10 ton per hari.
Kepala DLH Kota Jogja Rajwan Taufiq mengatakan, penambahan 10 ton per hari itu hanya sekitar tiga persen dari produksi sampah harian yang mencapai 300 ton. Dia mengklaim kenaikan tersebut masih terkendali dan tidak terlalu berdampak pada penumpukan depo.
Rajwan mengungkap, peningkatan produksi harian selama bulan Ramadan didominasi limbah Pasar Ramadan dan pembagian takjil gratis berupa sisa makanan. Menurutnya, sampah sisa makanan dapat dikendalikan di tingkat hulu. Lantaran pemerintah kota (pemkot) menerapkan pengolahan lewat ember atau emberisasi.
“Sampah organik dari kegiatan Riamadan maupun permukiman warga dimasukkan ke ember, jadi tidak ke depo,” ujar Rajwan di Balai Kota Jogja Selasa (3/3).
Mantan Kabag Administrasi Pembangunan Setda Kota Jogja itu menyatakan, sampah organik yang telah dikumpulkan dalam ember langsung dibawa penggerobak ke titik kumpul kelurahan. Kemudian diambil oleh offtaker untuk dimanfaatkan menjadi pakan ternak.
Rajwan pun memastikan, sistem pengolahan sampah juga sudah optimal. Sebab sudah tidak ada lagi penumpukan sampah di depo seperti masa darurat sampah beberapa waktu lalu. “Misalnya pun isi, ya sebatas isi. Tapi paginya diangkat,” ungkapnya.
Pantauan Radar Jogja di sejumlah depo, kondisi sampah memang cukup landai. Misalnya di Depo Mandala Krida yang biasanya penuh, justru tidak ada penumpukan Selasa (3/3) sore. Hanya tampak deretan gerobak kosong dan aktivitas pengangkutan oleh petugas.
Kondisi yang sama juga terjadi di Depo Argolubang. Depo yang letaknya tidak jauh dari Stasiun Lempuyangan itu terlihat sudah kosong. Padahal dua pekan lalu, depo tersebut sempat membeludak dan menimbulkan bau tak sedap.
Salah satu penjaga Depo Argolubang yang enggan disebut identitasnya mengaku, pengangkutan depo sudah berjalan rutin. Sehingga depo tidak lagi sering mengalami penumpukan. “Sejak Februari sudah rutin diangkut, pagi itu penggerobak datang langsung masuk ke truk,” bebernya. (inu/eno)
Editor : Sevtia Eka Novarita