JOGJA - Selain bentuknya yang unik, Masjid Sela mempunyai nilai sejarah tinggi. Masjid yang dibangun di era raja pertama Karaton Ngayogyakarta Hadiningrat itu sempat dianggap 'angker' karena difungsikan sebagai gudang keranda mayat dan tombak. Sebelum akhirnya digunakan sebagai tempat ibadah masyarakat sekitar dan eksis hingga saat ini.
Letak Masjid Sela cukup sulit ditemukan. Umumnya, masjid berada di pinggir jalan raya. Namun masjid ini berada di gang kecil yang tidak muat dilewati kendaraan roda empat. Dari depan gang, pengunjung harus mematikan mesin dan menuntun motornya hingga sampai ke depan masjid.
Tak ada tempat parkir di masjid ini. Kendaraan hanya diparkirkan di pinggir gang seluas 1,5 meter.
Masjid Sela Panembahan berlokasi di RT 41 RW 11 Kelurahan Panembahan, Kemantren Kraton, Jogja. Dalam beberapa literasi, masjid dibangun pada masa pemerintahan Sultan Hamengku Buwono I tahun 1709 J (1787 M). Pendirian masjid ini dipimpin Tumenggung Mangundipuro di bawah pengawasan RM Sundara yang kelak bergelar Sri Sultan Hamengku Buwono II menggantikan ayahnya Mangkubumi.
Diperkirakan periode proses pembangunan masjid tidak jauh dari masa pembangunan Istana Air Tamansari. Hal itu diperkuat juga dengan model bentuk bangunan yang menyerupai bagian bangunan di Tamansari.
"Konon masjid ini seluruh bangunannya terbuat dari batu dengan bahan rekat dari legen atau nira," ujar Ketua Takmir Masjid Sela Panembahan Heru Susanto saat ditemui Radar Jogja di Kompleks Masjid Sela, Kamis (26/2).
Bangunan ini terletak di antara bangunan keluarga keraton. Sisi selatan terdapat gedung tablegan dan dalem uro sentono. Kemudian di sisi barat juga terdapat ndalem keraton dan Kriya Beteng. Di sisi timur terdapat dalem KGRA Hamengkunegoro, RM Sundara. Kemudian di sisi barat terdapat bangsal dan paseban.
"Masjid ini merupakan bangunan keluarga kerajaan, diperkirakan semacam panepen atau tempat untuk nenepi," bebernya.
Sebelum tahun 1962, masjid ini belum dijadikan tempat beribadah. Bahkan bangunan ini terkenal 'angker' bagi masyarakat sekitar. Sebab, bangunan itu diperuntukkan untuk menyimpan bandoso atau keranda mayat dan tombak. Total ada empat bandoso dan beberapa tombak yang disimpan di sana. Kemudian masyarakat sekitar meminta izin kepada Sultan HB IX untuk menjadikan bangunan itu sebagai tempat beribadah.
"Setelah tahun 1962 itu baru diperuntukkan sebagai masjid. Awalnya, alas masih berupa semen kasar yang diberi mendong atau tikar bambu sebagai sajadah. Penerangannya pun masih lampu teplok," paparnya.
Sultan HB IX, lanjutnya, mengizinkan bangunan itu difungsikan sebagai masjid. Pihak Keraton Jogja hanya berpesan agar masyarakat tidak mengubah bentuk aslinya. "Karena ini yasan Dalem Sinuhun HB I, itu sehingga harus bentuk asli sampai kapan pun," tambahnya.
Secara administrasi di Keraton Jogja, bangunan tersebut bernama Masjid Batu. Asal-usulnya karena seluruh bangunan masjid terbuat dari batu. Mulai dinding, kusen hingga atap semuanya dari batu. Tak ada soko atau tiang penyangga dalam struktur bangunan ini.
Agar lebih halus, masyarakat inisiatif menamai masjid itu sebagai Masjid Sela yang merupakan bahasa krama inggil dari batu. "Konon batu-batu material bangunan direkatkan menggunakan legen atau nira karena zaman dulu belum ada semen," lanjutnya.
Masjid Sela telah terdaftar sebagai bangunan cagar budaya (BCB) oleh Dinas Kebudayaan (Disbud) DIJ. Bangunan masjid terdiri dari bangunan pokok dengan atap tajug, mahkota sliliran floral, dan burung. Ujung sudut pada atap bangunan itu berbentuk tanduk. Keempat sisi dinding terdapat jendela jeruji kayu, masing-masing dua buah.
Sedangkan bangunan serambi beratap limasan dengan penyelesaian bentuk tanduk pada ujung sudut. Jumlah jendela pada dinding samping kiri dan kanan masing-masing satu buah dan pada dinding depan dua buah.
Menurut Heru, jamaah Masjid Sela cukup banyak. Terlebih ketika bulan Ramadan. Mayoritas jamaah berasal dari kampung sekitar, khususnya warga Panembahan. Banyak kegiatan yang dilakukan di masjid ini ketika bulan puasa. Misalnya buka puasa bersama, tadarus Alquran, dan kegiatan lainnya. "Beberapa kali juga ada wisatawan yang datang. Memang juga jadi destinasi wisata sejarah," jelasnya. (laz)