Jogja Sleman Bantul Gunungkidul Kulon Progo Sport Jogja 24 Jam Weekend Jateng Nusantara Internasional Ekonomi Education Expo Ramadan Sosok Opini Visual Report Urban Legend

Dari Kebun Terbengkalai, Selokraman Tumbuh Jadi Kampung Hijau Mandiri di Kotagede Jogja

Fahmi Fahriza • Sabtu, 21 Februari 2026 | 12:53 WIB

Kegiatan berkebun warga di Kampung Selokraman, Purbayan, Kotagede.
Kegiatan berkebun warga di Kampung Selokraman, Purbayan, Kotagede.

JOGJA - Siapa sangka kebun pisang yang dulu kotor dan tak terurus di Kampung Selokraman, RW 11, Kelurahan Purbayan, Kemantren Kotagede, kini menjelma menjadi pusat kegiatan lingkungan berbasis warga.

Dari lahan sederhana itu, lahir Kelompok Tani (Poktan) Melati Green yang kini terintegrasi juga dengan bank sampah bernama Srikandi Bank Sampah, penangkaran maggot, peternakan kelinci, hingga produksi ecobrick.

Inisiatif tersebut dirintis sejak 2014 silam, oleh Rismindarsih sebagai salah satu penggagas bersama beberapa warga sekitar.

Ia mengisahkan, awalnya lahan tersebut milik kerabatnya dan dipenuhi semak belukar.

"Awalnya itu kebun pisang, kotor sekali, seperti alas kecil. Lalu warga berinisiatif membersihkan. Sejak awal bukan hanya ibu-ibu, bapak-bapak juga ikut, terutama untuk nyangkul dan pekerjaan berat," ujarnya, Jumat (20/2).

Poktan itu kemudian diberi nama Melati Green, usulan dari salah satu anggota. Meski namanya identik dengan bunga, kegiatan mereka lebih banyak berfokus pada tanaman buah, sayur, dan tanaman obat.

Saat ini terdapat dua titik utama lahan yang dikenal sebagai Melati 1 dan Melati 2.

Tanaman yang dibudidayakan pun beragam, antara lain sawo, jeruk, pisang, pepaya, selada, kubis, bawang, hingga kencur dan kunir. Hasil panen dapat diambil warga untuk kebutuhan sehari-hari.

"Hasilnya bebas diambil warga. Biasanya mereka memberi uang kas sukarela. Tidak ada tarif, agar tidak sungkan. Tapi tidak memberi juga tidak apa-apa, ini dari warga untuk warga lagi," kata Rismindarsih yang kini menjabat sebagai bendahara di Bank Sampah Srikandi.

Lebih lanjut, untuk mendukung pengairan, warga juga membuat sumur pompa secara mandiri.

Bahkan pagar kebun dipasang menggunakan biaya pribadi agar area terlihat rapi.

Namun seiring berjalannya waktu, pola tanam kini menyesuaikan kondisi sumber daya manusia.

Mayoritas anggota bukan petani, melainkan buruh dengan kesibukan masing-masing.

"Sekarang lebih banyak cangkokan buah. Kalau sayur itu harus dirawat tiap hari, sementara warga punya pekerjaan utama," jelasnya.

Menariknya, gerakan ini tidak berdiri sendiri.

Bersamaan dengan berdirinya Poktan pada 2014, warga juga membentuk Srikandi Bank Sampah.

Kegiatan para warga di Kampung Selokraman, Purbayan, Kotagede. 
Kegiatan para warga di Kampung Selokraman, Purbayan, Kotagede. 

Pengelolanya adalah orang-orang yang sama.

"Orangnya ya itu-itu saja. Satu Poktan Melati Green, yang kedua Srikandi Bank Sampah, orangnya sama," kata perempuan berusia 76 tahun tersebut.

Dengan slogan pilah sampah dari rumah, warga terbiasa memilah sampah sebelum disetorkan. Sampah bernilai ekonomis dijual ke pengepul, sementara sampah organik dimanfaatkan untuk maggot dan pakan ternak.

Di kawasan yang sama juga terdapat Home Rabbit dengan sekitar 30 ekor kelinci. Kotorannya diolah menjadi pupuk untuk kebun, dan beberapa indukan juga dijual jika ada yang menginginkan.

"Selain itu, warga juga mengembangkan penangkaran maggot untuk mengurai sampah organik," paparnya.

Menariknya, para warga di sana memiliki jadwal kegiatan rutin setiap pekan.

Setiap Ahad sore, warga rutin berkumpul membuat ecobrick, yakni botol plastik yang dipadatkan dengan sampah non-organik untuk dijadikan barang fungsional, seperti kursi atau meja.

Baca Juga: PSS Sleman vs Persipura Jayapura, Pertarungan Perebutan Puncak Klasemen, Ini Dia Pemain Yang di Waspadai Ansyari Lubis

"Insya Allah kalau di sini kami sudah bisa mengelola sampah secara sendiri," ujarnya.

Meski demikian, layanan pengangkut sampah dari Dinas Lingkungan Hidup tetap berjalan.

Bahkan kampung tersebut telah beberapa kali dikunjungi instansi pemerintah dan mendapat bantuan alat pencacah serta insinerator, meski belum sepenuhnya dioperasikan.

Lebih lanjut, ia menuturkan, gerakan warga Selokraman juga menarik perhatian berbagai sekolah dan perguruan tinggi.

Seperti SMP Muhammadiyah 7 Jogja yang tercatat dua tahun berturut-turut mengirim siswa untuk praktik mencangkok dan menanam.

Di samping itu juga ada SMA Kolese De Britto yang berkolaborasi dalam kegiatan ecobrick, pupuk, maggot, dan kelinci.

Hingga para mahasiswa dari berbagai kampus juga pernah melaksanakan kuliah lapangan dan KKN dengan fokus pengelolaan sampah.

"Sekarang KKN banyak diarahkan ke masalah sampah. Di sini mereka bisa praktik langsung," ungkapnya.

Meski sudah berjalan lebih dari satu dekade, Rismindarsih mengakui tantangannya tetap ada, salah satu yang terbesar saat ini adalah regenerasi dan konsistensi sumber daya manusia.

Anggota aktif yang hadir dalam pertemuan rutin bisa mencapai 30-40 orang, namun sebagian besar merupakan warga usia dewasa hingga lanjut.

"Yang muda-muda pernah dilibatkan, tapi masih sulit konsisten. Jadi yang terjun ya orang tua-tua ini," katanya.

Pendanaan pun berjalan sederhana.

Selain dari kas kelompok dan iuran, Rismindarsih tak jarang menggunakan dana pribadi untuk membersihkan area yang dianggap kurang terawat.

Dari kebun pisang yang dulu tak terurus, kini Kampung Selokraman berkembang menjadi kampung hijau dengan sistem pertanian, pengelolaan sampah, peternakan, hingga ekonomi sirkular skala lokal.

Semua dikelola warga dalam semangat gotong royong.

"Kita warga di sini jalani apa adanya. Yang penting kampung ini tetap bersih dan bermanfaat untuk warga juga," tutup Rismindarsih. (iza)

Editor : Meitika Candra Lantiva
#Kelurahan Purbayan #Selokraman #kampung hijau #Kebun Terbengkalai #kotagede #Jogja #kelompok tani