JOGJA - Ramadan dan masa prapaskah tahun ini datang beriringan. Di tengah guyuran hujan Rabu (18/2/2026), jemaat memadati Gereja Paroki Hati Kudus Tuhan Yesus (HKTY) Pugeran untuk mengikuti misa Rabu Abu.
Momentum dua ibadah puasa lintas iman itu pun dimaknai sebagai ajakan merawat toleransi di Kota Jogja.
Suasana khidmat tampak dalam prosesi peribadatan masa prapaskah yang diawali dengan Rabu Abu.
Meskipun diguyur hujan deras, antusias jemaat yang datang ke Gereja Paroki HKTY Pugeran tak surut.
Prosesi misa perayaan Rabu Abu sesi siang yang diselenggarakan pukul 12.00 itu juga berjalan lancar.
Pastor Paroki Gereja HKTY Pugeran Romo Fransiscus Xaverius (FX) Sukendar mengatakan, masa prapaskah tahun ini bersamaan dengan bulan Ramadan.
Di masa itu umat katolik dan muslim sama-sama melaksanakan ibadah puasa. Bedanya, untuk umat katolik disebut masa pantang.
Menurutnya, ritual keagamaan yang dilaksanakan pada waktu yang sama itu merupakan kesempatan umat beragama untuk saling menghargai.
Sekaligus menunjukkan semangat toleransi di antara perbedaan masing-masing.
“Ketika kita bersama dengan tetangga, kerabat, sanak saudara, agamanya apa pun, lalu bisa mewujudkan hal yang baik itu menjadi masyarakat yang bahagia,” ujar sosok yang akrab disapa Romo Kendar itu di kantornya.
Romo Kendar juga menggunakan istilah tarawih untuk menggambarkan kegiatan pendalaman iman yang dilakukan umat katolik selama masa prapaskah.
Sebab di masa itu jemaat gereja juga melakukan pendalaman kitab suci dan persiapan tri hari paskah.
Baca Juga: Potensi SDA Papua Menguatkan Arah Swasembada Energi Indonesia
Dia berharap, di masa prapaskah umat katolik di Gereja HKTY Pugeran bisa menghormati umat muslim.
Tindakan yang dilakukan pun dapat diwujudkan sederhana. Misalnya dengan tegur sapa ketika hendak melaksanakan kegiatan di masing-masing rumah ibadah.
"Saling menyapa ketika berangkat ibadah, baik yang ke masjid maupun yang ke gereja atau pertemuan lingkungan itu sudah menjadi wujud toleransi yang sangat bermakna," ujar Romo Kendar.
Selain bersamaan dengan hari suci umat muslim. Romo Kendar menyatakan bahwa masa prapaskah juga bersamaan dengan momentum Imlek.
Hari besar bagi umat konghucu itu juga dihormati oleh paroki Gereja HKTY Pugeran.
Namun khusus tahun ini berbeda, pada Imlek tahun lalu Gereja HKTY Pugeran menyelenggarakan atraksi barongsai.
Namun tahun ini tidak dilaksanakan karena bersamaan dengan masa prapaskah yang identik dengan pertobatan dan keheningan.
Terkait dengan agenda tahunan gereja jemaat gereja bagi-bagi takjil, Romo Kendar mengaku kegiatan tersebut masih dalam tahap pembahasan.
Meskipun demikian semangat berbagi tetap menjadi prioritas utama.
“Kami masih memikirkan apa yang pas untuk perhatian kepada masyarakat. Karena kami juga tahu situasi keluarga-keluarga baru-baru ini juga sedang tidak baik-baik saja dari sisi perekonomian,” tandasnya. (inu/wia)
Editor : Winda Atika Ira Puspita