JOGJA - Dunia seni dan panggung hiburan kini tengah berduka. Lucia Saddewi Dwi Intani atau yang dikenal dengan nama Lusy Laksita meninggal dunia pada Selasa (15/2/2026) malam.
Sosok mantan penyiar radio Geronimo FM Jogja itu pun membekas di hati sahabat dan koleganya.
Suasana duka menyelimuti rumah duka Rumah Sakit Panti Rapih.
Ratusan pelayat silih berganti untuk melihat Lusi terakhir kalinya.
Sejumlah tokoh seniman dan pelaku panggung hiburan juga tampak datang.
Salah satunya Yati Pesek, wanita bernama asli Suyati ini mengenang sosok Lusy sebagai teman yang baik.
Seniman senior sekaligus pelawak ini mengenal dengan wanita kelahiran 23 Februari 1967 itu sejak masih berusia remaja.
Pertemuan pertama mereka di studio TVRI dalam sebuah program siaran bulan ramadan.
Yati mengatakan, Lusy merupakan wanita yang enerjik dan ramah.
Serta sangat terbuka bagi siapapun yang ingin dekat dengannya.
Sehingga kehadirannya di lingkungan pertemanan pelaku seni dan hiburan sangat ditunggu-tunggu.
“Mbak Lusy itu orangnya semangat banget, cekatan, dan ramah dengan siapa saja. Maka tidak heran jika yang takziah banyak banget,” ujar pemain ketoprak kelahiran 8 September 1952 ini di rumah duka.
Sosok Lusy juga dianggap sebagai mentor oleh kalangan master of ceremony (MC).
Alit Jevi Prabangkoro menyampaikan bahwa almarhumah merupakan guru bagi para pembawa acara panggung di Jogja.
Sosoknya tidak pelit berbagi dan tidak pamrih memberikan koreksi.
Pria yang akrab dengan nama panggung Alit Jabang Bayi itu pun tidak lupa bagaimana Lusy memberitahu tentang detail-detail pembawaan acara panggung.
Misalnya tentang cara memegang mikrofon dan tata bahasa yang benar.
“Pesan Mama Lusy kepada kami itu jangan membenarkan yang biasa, tapi membiasakan yang benar,” terang Alit.
Salah satu murid Lusy, Gundhi Anditya juga paham betul bagaimana mentornya mengajarkan tentang kedisiplinan sebagai pembawa acara.
Mulai dari persiapan gladi resik sampai pembuatan cue card jika penyelenggara tidak menyediakan bagi MC.
Lebih dari itu, MC yang kondang nama panggung Gundhissos ini juga mengganggap almarhumah sebagai konsultan.
Lantaran sangat murah hati ketika diajak berdiskusi.
Berbeda dengan MC senior pada umumnya yang cenderung mengagung-agungkan pencapaian pribadi.
“Mama itu menuntun dan sharing, serta memang jadi kayak konsultan,” tandas Gundhi. (inu)
Editor : Iwa Ikhwanudin