JOGJA - Kawasan Kotabaru menjadi atensi Satuan Polisi Pamong Praja (Satpol PP) Kota Jogja selama Ramadan. Hal ini dilakukan untuk mencegah aktivitas street coffee dan kegiatan menyimpang lainnya pun dilakukan agar tidak mengganggu masyarakat.
Kepala Satpol PP Kota Jogja Octo Noor Arafat mengatakan, pencegahan gangguan masyarakat dari aktivitas street coffee dilakukan dengan patroli lintas sektor. Diikuti personel Satpol PP, dinas perhubungan, dan kepolisian.
“Kalau Satpol PP dalam rangka menjaga ketentraman, ketertiban, kenyamanan warga masyarakat di kawasan Kotabaru, khususnya hunian, gereja, dan juga Masjid Syuhada,” ujar Octo saat ditemui di Balai Kota Jogja Jumat (13/2).
Dia mengklaim aktivitas street coffee saat ini jauh berkurang. Jika sebelumnya terdapat belasan lapak, dalam beberapa waktu terakhir ini hanya tersisa dua sampai tiga lapak. Namun bisa mencapai sebanyak lima lapak di waktu-waktu tertentu, seperti malam minggu.
Octo memastikan, operasi terhadap street coffee maupun pedagang kaki lima di kawasan Kotabaru tetap akan dilakukan. Bahkan akan dilakukan penyitaan barang dagangan jika memang diperlukan. Operasi juga menyasar titik rawan lainnya seperti di Jalan Urip Sumoharjo.
“Street coffee memang belum clear, tetapi setiap malam masih kami operasi,” katanya.
Pantauan Radar Jogja Minggu (15/2) sore, belum tampak aktivitas street coffee yang berada di badan jalan di kawasan Masjid Syuhada. Hanya ada sejumlah pedagang yang membuka lapaknya dengan memanfaatkan trotoar untuk tempat duduk. Kemudian penjual minuman dan cilok ada yang berada di depan pintu masuk masjid.
Salah satu jemaah Masjid Syuhada Andi menilai, kehadiran pedagang dan street coffee kemungkinan akan mengganggu aktivitas masjid selama Ramadan. Sebab ada potensi jemaah harus berbagai tempat parkir dengan pengunjung atau pembeli kopi.
“Kalau dulu motor-motor pembeli di seberang masjid, ya harapannya ditata saja supaya tidak mengganggu, soalnya dulu itu sempat ramai sekali” ungkap Andi. (inu/eno)
Editor : Sevtia Eka Novarita