JOGJA - Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) Yogyakarta mendeteksi adanya aktivitas monsun asia (angin baratan) dan Madden Julian Oscillation (MJO). Fenomena tersebut memungkinkan potensi hujan lebat dalam beberapa pekan kedepan.
Kepala Stasiun Klimatologi BMKG Yogyakarta Reni Kraningtyas mengatakan, dampak fenomena itu memungkinkan curah hujan pada dasarian (10 hari) kedua bulan Februari berada di kategori menengah hingga tinggi antara 50-200 mm/dasarian.
Lalu di dasarian ketiga bulan ini menurun menjadi 20-150 mm/dasarian atau masuk kategori rendah hingga menengah.
Kondisi tersebut diprediksi bertahan hingga dasarian pertama Maret dengan kategori hujan rendah-menengah dengan intensitas 20-150 mm/dasarian. Sementara sifat hujan pada tiga dasarian tersebut kemungkinan berada pada kategori bawah normal sampai atas normal.
“Dampak musim hujan tahun 2025-2026 dapat diantisipasi melalui langkah mitigasi,” ujar Reni saat dikonfirmasi lewat pesan singkat, Minggu (15/2/2026).
Secara umum musim tahun ini dapat dikatakan normal. Namun durasi musim hujan dapat mencapai 160 sampai 180 hari sejak awal penghujan di bulan Oktober 2025 lalu. Sehingga musim penghujan diprediksi baru berakhir pada awal April nanti.
Baca Juga: Aturan Penghapusan Geblek Renteng dan Cat Hanya Galak ke Sekolah, Kantor Dinas Masih Melempem
Reni menyebut, bulan Februari merupakan periode puncak musim penghujan. Sehingga pemerintah daerah dan masyarakat di wilayah rawan bencana banjir, tanah longsor, dan angin kencang harus selalu waspada. Serta melakukan tindakan mitigasi untuk mengurangi dampak kerugian materil maupun korban jiwa akibat cuaca ekstrem.
“Mitigasi dapat dilakukan dengan membersihkan saluran-saluran air, memangkas dahan pohon, dan memastikan kekuatan baliho,” beber Reni.
Kepala Stasiun Meteorologi BMKG Yogyakarta Warjono mengungkapkan, potensi hujan lebat dimungkinkan dapat terjadi Kota Jogja, Sleman, Kulon Progo bagian utara dan selatan, Bantul bagian selatan, dan Gunungkidul. Hujan lebat diprediksi dapat terjadi dalam beberapa hari kedepan.
Warjono menyebut, selain karena MJO dan Monsun Asia, dinamika atmosfer saat ini juga menunjukkan suhu muka laut terpantau relatif hangat. Berkisar antara 26-29 derajat celcius dengan anomali hingga 0,5 derajat celcius. Kemudian kelembaban udara berada di kisaran 65 sampai 95 persen.
“Sehingga meningkatkan peluang pertumbuhan awan hujan di wilayah DIY,” ungkapnya. (inu)