Jogja Sleman Bantul Gunungkidul Kulon Progo Sport Jogja 24 Jam Weekend Jateng Nusantara Internasional Ekonomi Education Expo Ramadan Sosok Opini Visual Report Urban Legend

Lewat Karaoke WNI Mumet, Ibu-Ibu Rawat Kewarasan  dan Protes Kebijakan Pemerintah di Bundaran UGM

Adib Lazwar Irkhami • Jumat, 13 Februari 2026 | 20:34 WIB

 

 

AKSI: Suasana aksi Karaoke WNI Mumet yang diselenggarakan di Bunderan UGM, Jumat (13/2/2026).
AKSI: Suasana aksi Karaoke WNI Mumet yang diselenggarakan di Bunderan UGM, Jumat (13/2/2026).

JOGJA - Sekumpulan perempuan yang mengatasnamakan Relawan Suara Ibu Indonesia menggelar aksi protes terhadap kebijakan pemerintah di Bundaran UGM, Jumat (13/2). Uniknya, aksi dikemas dengan kegiatan bernyanyi bersama bertajuk "Karaoke WNI Mumet".

Pantauan Radar Jogja, tampak sejumlah ibu-ibu menyanyikan lagu bernada kritik terhadap program makan bergizi gratis (MBG). Selain itu juga ada sejumlah aktivis yang menyampaikan kritik sama.

Juru Bicara Media Relawan Suara Ibu Indonesia Widya mengatakan, aksi itu merupakan salah satu cara pihaknya untuk menjaga kewarasan di tengah carut marutnya program MBG. Upayanya dilakukan dengan menyanyikan lagu-lagu yang mengkritisi kebijakan program pemerintah.

Lantaran, menurutnya, kondisi mental masyarakat saat ini sedang tidak baik-baik saja akibat tekanan kebijakan negara. Aksi tersebut juga menjadi ruang bagi masyarakat untuk berkeluh-kesah di tengah situasi ekonomi dan sosial yang sangat sulit.

"Ini cara kami merawat kewarasan biar tetap waras sebagai WNI yaitu dengan karaoke sambat bersama,” ujar Widya di sela aksi.

Salah satu poin utama yang disoroti dalam aksi ini adalah mendesak pemerintah segera menghentikan dan mengevaluasi program MBG. Sebab, program tersebut memicu efek domino yang mengabaikan sektor-sektor krusial lainnya.

Untuk bidang pendidikan misalnya, banyak guru honorer yang telah mengabdi puluhan tahun dengan gaji rendah. Namun hak untuk mendapatkan upah layak dikesampingkan demi mengangkat ribuan petugas Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) sebagai Pegawai Pemerintah dengan Perjanjian Kerja (P3K).

Kemudian di sektor kesehatan, jutaan Penerima Bantuan Iuran Jaminan Kesehatan (PBI-JKN) terpaksa dinonaktifkan imbas pengalihan anggaran.

Lalu, juga ada kasus bunuh diri seorang anak akibat tidak mampu alat-alat tulis. Serta masih belum selesainya penanganan dampak bencana.

Widya menyampaikan, sebelumnya Relawan Suara Ibu Indonesia juga telah menggelar rangkaian aksi.

Misalnya aksi pukul panci yang tujuannya juga untuk mengkritisi program MBG. "Selama tuntutan kami belum diwujudkan, kami akan terus bersuara,” tegasnya.

Dalam momen aksi ini, Ketua BEM UGM Tiyo Ardianto mengaku juga sempat mendapat serangkaian teror akibat mengkritik kebijakan pemerintah. Mulai lewat pesan singkat dari nomor asing, ancaman penculikan hingga pembongkaran aib.

Tidak hanya itu, dia juga mendapat tindakan penguntitan dan pengambilan foto secara diam-diam oleh orang tidak dikenal di tempat umum. Serta pembunuhan karakter melalui isu-isu pribadi di media sosial seperti menuduh dirinya sebagai LGBT.

Tiyo mengakui serangkaian aksi teror terhadap dirinya itu muncul setelah BEM UGM mengkritik kebijakan pemerintah.

Awalnya dari bersurat kepada UNICEF tentang kasus kematian anak di Nusa Tenggara Timur (NTT). Dalam suratnya ada penekanan tentang ketidaktahuan presiden terhadap realitas masyarakat.

"Ketidaktahuan itu kami ambil sebagai diksi stupid, karena dalam KBBI bodoh itu artinya tidak tahu. Maka kami ingin supaya ada pihak luar yang barangkali lebih didengar oleh presiden ketimbang publiknya sendiri,” jelas Tiyo.

Meskipun mendapatkan serangkaian teror, Tiyo memastikan tidak akan gentar. Dia bersama BEM UGM akan terus melayangkan kritik terhadap pemerintah apabila kebijakannya memang tidak berpihak kepada rakyat.

Tiyo juga menyoroti alokasi dana sebesar Rp 16,7 triliun untuk iuran pada board of peace (BOP) dan anggaran fantastis untuk program MBG yang mencapai Rp 1,2 triliun per hari atau sekitar Rp 335 triliun per tahun.

Menurutnya, kebijakan itu sangat ironis jika dibandingkan dengan realitas kemiskinan di daerah. "MBG maksudnya baik, mungkin baik untuk anak-anak yang stunting. Tapi kalau dengan cara kayak gini, ini bukan untuk makan bergizi gratis, ini maling berkedok gizi," tegasnya. (inu/laz)

 

Editor : Herpri Kartun
#Bundaran UGM #Mbg #Makan Bergizi Gratis #Karaoke WNI Mumet #P3K #BEM UGM