Jogja Sleman Bantul Gunungkidul Kulon Progo Sport Jogja 24 Jam Weekend Jateng Nusantara Internasional Ekonomi Education Expo Ramadan Sosok Opini Visual Report Urban Legend

Peningkatan Kasus PMK di DIY Terbanyak di Kulon Progo, Vaksin Tahap Pertama Telah Dikirim

Agung Dwi Prakoso • Kamis, 12 Februari 2026 | 15:08 WIB
SAMPEL: Dokter hewan mengambil air liur dari sapi yang terjangkit PMK.
SAMPEL: Dokter hewan mengambil air liur dari sapi yang terjangkit PMK.

JOGJA - Kasus Penyakit Mulut dan Kuku (PMK) di Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) masih banyak ditemukan.

Hingga saat ini, total ada 194 kasus yang tersebar di tiga daerah di DIY.

Kepala Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan (DPKP) DIY Aris Eko Nugroho mengatakan 194 kasus PMK menyerang hewan ternak baik sapi maupun kambing.

Detail sebarannya yakni 78 kasus ditemukan di Sleman, 24 di Bantul, 1 di Gunungkidul dan 91 di Kulon Progo.

"Paling banyak itu di Kulon Progo total ada 91 kasus," ujarnya saat dikonfirmasi, Kamis (12/2/2026).

Menurutnya, penyebab meningkatnya kasus PMK tersebut dikarenakan vaksinasi di tahun sebelumnya kurang maksimal.

Selain itu, faktor lainnya adalah adanya mobilitas hewan ternak dari daerah lain.

"Total ada enam hewan yang terpantau mati," bebernya.

Pihaknya saat ini sedang menggalakkan vaksinasi hewan ternak sebagai langkah pencegahan penularan PMK.

Sebanyak 30 ribu dosis vaksin tahap pertama telah dikirimkan dari provinsi ke beberapa daerah tersebut.

"Sebagian hewan ternak sudah divaksin. Stok vaksin pun aman," jelasnya.

PMK merupakan salah satu virus akut yang sangat menular pada hewan berkuku belah/genap seperti sapi, kerbau, kambing, domba dan babi.

Baca Juga: Dewa United Pindahkan Dua Laga Kandang ke Indomilk Arena di Bulan Ramadan, Ardian Satya: Demi Persiapan Maksimal Tatap Asia

Penyakit tersebut ditandai dengan lepuh pada mulut/lidah dan kuku, demam tinggi, serta liur berlebih.

"Jika dilihat dari data, tingkat kesembuhannya saat ini sudah lebih dari 48 persen," tandasnya.

Terpisah, Dosen Fakultas Kedokteran dan Ilmu Kesehatan (FKIK) Universitas Muhammadiyah Yogyakarta (UMY), Dr. drh. Tri Wulandari K., M.Kes., mengatakan bahwa vaksinasi PMK direkomendasikan ketika terjadi wabah.

Vaksin itu bukan penanganan rutin di wilayah yang telah dinyatakan bebas PMK.

“Vaksin PMK dapat menurunkan tingkat keparahan gejala, tetapi tidak sepenuhnya mencegah infeksi. Hewan yang sudah divaksin masih mungkin terinfeksi, hanya saja gejalanya lebih ringan atau bahkan tanpa gejala,” jelasnya.

Pemahaman tersebut, lanjutnya, penting diketahui peternak bahwa vaksin tidak bisa sepenuhnya membuat ternak kebal virus.

Pengendalian yang dilakukan seharusnya tidak hanya bertumpu pada vaksinasi, namun pada penguatan sistem biosekuriti di tingkat peternakan.

Pengelolaan kesehatan hewan yang disiplin dan kebersihan kandang menjadi kunci utama mencegah kemunculan kembali wabah.

“Jika hewan dalam kondisi sehat dan lingkungan terjaga, imunitas tubuh dapat melawan infeksi secara alami. Hingga saat ini belum ada obat yang dapat membunuh virus PMK, sehingga penguatan imunitas melalui manajemen kesehatan yang baik sangat penting,” ujarnya. (oso)

Editor : Iwa Ikhwanudin
#Kasus Penyakit Mulut dan Kuku #pmk di kulonprogo #Penyakit Mulut dan Kuku #PMK #kasus pmk di kulonprogo