JOGJA - Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) Yogyakarta kembali mendeteksi pola pertemuan angin (konvergensi) akibat aktivitas siklonik.
Kondisi tersebut memungkinkan potensi cuaca ekstrem hingga beberapa hari ke depan.
Kepala Stasiun Meteorologi BMKG Yogyakarta Warjono mengatakan, konvergensi terjadi di wilayah Pulau Jawa.
Kondisi itu menyebabkan pengumpulan massa udara. Lalu berakibat pada masifnya pertumbuhan awan hujan di DIY.
Warjono memprediksi, akibat kondisi itu DIY dimungkinkan akan diguyur hujan dengan intensitas sedang hingga lebat.
Bahkan tidak menutup disertai petir dan angin kencang. Sebaran cuaca ekstrem di DIY juga disebut merata selama periode 11-13 Februari 2026. Meliputi di Kota Jogja, Sleman, Kulon Progo, Bantul, serta Gunungkidul di bagian utara.
Baca Juga: Pasar Kranggan Yogyakarta, Perpaduan Jajanan Tradisional dan Kuliner Anak Muda
“Kami meminta agar masyarakat tetap waspada terhadap potensi cuaca ekstrem,” ujar Warjono dalam keterangannya, Rabu (11/2/2026).
Selain aktivitas siklon, potensi cuaca ekstrem juga dipicu peningkatan uap air ke atmosfer akibat tingginya suhu muka laut.
Lantaran suhu berkisar antara 26 hingga 29 derajat celcius dengan anomali -1 hingga 0,5 derajat.
Di samping itu, profil kelembaban udara di DIY juga tergolong basah. Sehingga meningkatkan peluang pertumbuhan awan hujan. “Kelembaban udara sebesar 70 - 95 persen,” ungkapnya.
Sementara itu, Kepala Bidang Ruang Terbuka Hijau Publik Dinas Lingkungan Hidup Kota Jogja Rina Aryati Nugraha menyampaikan, pihaknya mewaspadai bencana pohon tumbang di puncak musim penghujan.
Sehingga mitigasi pun dilakukan. Rina mengaku, telah menerjunkan tim khusus untuk memangkas pohon perindang. Sasarannya pohon rimbun dan rawan tumbang.
“Kami segera menindaklanjuti kalau ada laporan pohon yang sudah keropos atau mati, apalagi yang membahayakan,” katanya. (inu/wia)
Editor : Winda Atika Ira Puspita