JOGJA - Pekan Budaya Tionghoa Yogyakarta (PBTY) digelar mulai tanggal 25 Februari hingga 3 Maret 2026.
Mengingat dilaksanakan di tengah bulan Ramadan, panitia menerapkan beberapa penyesuaian. Salah satunya zona kuliner halal dan non halal.
Wakil Ketua Pelaksana PBTY XXI Subekti Saputro Wijaya mengatakan, pada perhelatan tahun ini ada total 172 stand kuliner.
Dari jumlah itu 30 di antaranya merupakan stand kuliner non halal.
Serta 142 stand kuliner halal yang dapat dinikmati masyarakat umum.
Subekti menyatakan, pihaknya juga telah menerapkan zona kuliner secara ketat.
Kawasan kuliner non halal dipisahkan dengan zona kuliner halal.
Kemudian panitia juga mempertegas tanda zona kuliner non halal agar memberikan informasi bagi pengunjung PBTY.
Selain itu, waktu jam buka antara kuliner halal dan non halal juga dibedakan.
Khusus untuk kuliner halal sudah dibuka sebelum pukul 17.00.
Sementara stand kuliner non halal mulai buka setelah pukul 17.00.
“Masyarakat bisa berburu takjil atau kebutuhan buka puasa di bazar kuliner halal,” ujar Subekti saat ditemui di Balai Kota Jogja, Rabu (11/2/2026).
Baca Juga: Puluhan Bikers Honda Vario Ramaikan Peluncuran New Vario 125 di Pakuwon Mall Jogja
Selain penerapan zona kuliner, PBTY XXI juga dilaksanakan dengan sejumlah kegiatan yang berkaitan bulan Ramadan.
Di antaranya ngabuburit sehat dengan sesi taichi dan zumba bersama.
Lalu olahraga lari sore bertajuk Ngabuburun, dan dongeng anak-anak menjelang waktu berbuka puasa.
Subekti menambahkan, panggung pertunjukan juga dilakukan penyesuaian pada PBTY tahun ini.
Panggung utama akan berada di Jalan Suryatmajan.
Serta menggunakan panggung yang bisa naik turun agar tidak mengganggu lalu lintas di kawasan Malioboro.
Menurutnya, penyesuaian panggung dilakukan karena lahan kosong yang sebelumnya menjadi pusat kegiatan PBTY kini sudah dibangun Area Parkir Ketandan.
Kemudian untuk puncaknya di tanggal 28 Februari 2026 dilaksanakan Malioboro Imlek Carnival dengan rute karnaval dari Gedung DPRD DIY hingga Titik Nol Kilometer mulai pukul 20.00.
“Tahun-tahun sebelumnya kami pakai panggung di tengah jalan dan ngeblok jalan,” jelas Subekti.
Sementara itu, Ketua PBTY XXI Jimmy Sutanto menyampaikan, agenda wisata tahunan tersebut diharapkan bisa mendukung peningkatan pariwisata dan ekonomi di DIY.
Baik itu dari pelaku seni dan budaya, pedagang sektor usaha mikro, kecil dan menengah (UMKM), serta jasa penyedia akomodasi kamar dan transportasi.
Dia menyampaikan, PBTY merupakan bentuk toleransi dan wujud keberagaman kebudayaan yang ada di Yogyakarta.
Tahun ini mengusung tema Warisan Budaya Kekuatan Bangsa.
Serta dikemas dengan sedemikian rupa agar dapat menjadi ruang bersama menanti waktu berbuka puasa dalam suasana yang hangat, edukatif, dan penuh toleransi.
“Melalui kegiatan ini diharapkan semakin menegaskan Jogja sebagai city of tolerance,” tandas Jimmy. (inu)
Editor : Iwa Ikhwanudin