JOGJA - Kirab budaya tradisi ruwahan di Kampung Miliran, Kelurahan Muja Muju, Kemantren Umbulharjo, Kota Jogja, digelar dengan melibatkan umat lintas agama sebagai upaya pelestarian budaya sekaligus penguatan toleransi warga.
Kegiatan yang berlangsung Minggu (8/2/2026) itu menegaskan Miliran sebagai kampung dengan semangat pluralisme dan moderasi beragama.
Pantauan Radar Jogja, kirab ruwahan Kampung Miliran memang agak berbeda. Peserta tidak hanya menggunakan baju adat jawa.
Tapi juga ada yang mengenakan pakaian adat Papua, lalu diikuti biarawati, tampak pula pakaian adat Tionghoa, dan ada gunungan apem.
Ketua Kampung Miliran Tri Harummurti mengatakan, tujuan utama dari kegiatan tersebut tidak lain sebagai pelestarian budaya.
Namun di samping itu juga menjadi wadah menyatukan seluruh warga tanpa memandang latar belakang agama.
“Tujuan utamanya adalah pelestarian warisan budaya, edukasi makna filosofis, serta penguatan toleransi di level akar rumput,” ujar Tri saat ditemui di sela kegiatan.
Baca Juga: Hasil Final Liga Nusantara: Rans FC Juara Setelah Taklukkan Dejan FC di Adu Penalti
Ketua Panitia Kirab Ruwahan Kampung Miliran Heri Santoso Wibowo menyampaikan, kirab ruwahan mengusung tema pluralisme.
Tema itu diambil karena kondisi sosial di Miliran terdiri dari berbagai suku, ras, dan agama.
Heti berharap, lewat kegiatan tersebut bisa semakin menegaskan toleransi di Kota Jogja.
Sekaligus menegaskan bahwa siapapun yang tinggal di Kampung Miliran entah itu dari manapun bisa merasa nyaman dan saling menghormati.
Baca Juga: 1.414 Calon Jemaah Haji Ikuti Manasik di Magelang, 30 Persen Masuk Kategori Rentan
“Kampung Miliran adalah kampung moderasi beragama. Sehingga kami mengajarkan kepada siapa pun yang tinggal di Miliran untuk saling menghormati antarpemeluk agama satu dengan yang lain,” katanya.
Tokoh Pemuda Kampung Miliran Yunianto Andri menambahkan, generasi muda sangat dilibatkan dalam kegiatan tersebut.
Sebab para anak-anak muda nantinya memiliki peran menjaga tradisi ruwahan agar tidak hilang ditelan zaman.
Andri menyampaikan, ruwahan merupakan tradisi yang dilakukan sebelum memasuki bulan Ramadan.
Tujuannya untuk mendoakan leluhur, orang tua, keluarga, maupun kerabat yang sudah meninggal dunia.
“Sebagai bagian dari rangkaian acara, warga juga telah melaksanakan aksi resik makam,” bebernya.
Sementara itu, Wakil Wali Kota Jogja Wawan Harmawan menegaskan, pemerintah kota (pemkot) selalu mendukung berbagai kegiatan yang bertujuan untuk menciptakan kerukunan.
Dia berharap tradisi ruwahan tidak hanya berhenti di level kampung. Namun bisa dikerjasamakan dengan pemkot agar menjadi event tahunan yang diikuti seluruh kampung di Kota Jogja.
“Harapan kami ke depan ini menjadi suatu event kota, sehingga tidak hanya dinikmati oleh kita untuk kita, tapi juga dapat mendatangkan wisatawan dari luar," tambah Wawan. (inu/wia)
Editor : Winda Atika Ira Puspita