JOGJA - Memasuki awal 2026, kinerja perekonomian di DIY tercatat tetap solid. Karena ditopang oleh berlanjutnya beberapa sektor penting seperti pembangunan infrastruktur strategis serta meningkatnya aktivitas pariwisata yang berdampak langsung terhadap konsumsi masyarakat.
Kepala Kantor Perwakilan BI DIY Sri Darmadi Sudibyo mengungkapkan, perekonomian DIY sepanjang 2025 lalu tumbuh akseleratif sebesar 5,49 persen secara year on year (yoy). Menjadi yang tertinggi di Pulau Jawa sekaligus melampaui pertumbuhan ekonomi nasional.
Diakuinya, capaian tersebut mencerminkan kuatnya permintaan domestik di DIY, seiring masifnya pembangunan fisik dan bangkitnya sektor pariwisata. "Kinerja ini didorong kuatnya permintaan domestik, berlanjutnya pembangunan infrastruktur fisik, serta peningkatan aktivitas pariwisata," ujar Sri Darmadi Sabtu (7/2).
Dari sisi lapangan usaha, sektor konstruksi mencatat pertumbuhan tertinggi sebesar 8,12 persen (yoy) pada triwulan IV 2025. Kinerja tersebut ditopang oleh sejumlah proyek strategis yang masih berjalan, antara lain pembangunan Tol Jogja-Solo, Tol Jogja-Bawen, Gedung DPRD DIY, revitalisasi sekolah, hingga peningkatan kualitas infrastruktur jalan.
Sementara itu, sektor penyediaan akomodasi dan makan minum turut tumbuh 7,99 persen (yoy), seiring meningkatnya mobilitas masyarakat dan lonjakan kunjungan wisatawan pada momentum Natal 2025 dan Tahun Baru 2026.
"Peningkatan pariwisata akhir tahun turut mendorong permintaan terhadap jasa penginapan, transportasi, hingga konsumsi makanan dan minuman," jelasnya.
Dari sisi permintaan, pertumbuhan ekonomi DIY juga diperkuat oleh kinerja pembentukan modal tetap bruto (PMTB) yang tumbuh 9,36 persen (yoy) pada triwulan IV 2025, sejalan dengan berlanjutnya pembangunan infrastruktur dan revitalisasi bangunan terpadu.
Konsumsi rumah tangga turut menguat dengan pertumbuhan sebesar 4,89 persen (yoy), didorong peningkatan belanja masyarakat untuk kebutuhan pangan, transportasi, rekreasi, serta penginapan selama periode libur akhir tahun. BI DIY juga mencatat kenaikan upah minimum provinsi (UMP) DIY sebesar 6,5 persen pada 2025 ikut menjaga daya beli masyarakat.
"Konsumsi masyarakat masih terjaga, didukung kenaikan UMP serta stimulus pemerintah untuk mempertahankan daya beli," tambahnya.
Meski demikian, BI DIY mengingatkan adanya sejumlah tantangan yang masih membayangi pada awal 2026, di antaranya ketidakpastian geopolitik global serta kebijakan efisiensi anggaran dan pembatasan agenda MICE pemerintah yang berdampak terhadap perlambatan sektor perhotelan.
Ke depan, BI DIY tetap optimistis perekonomian daerah akan melanjutkan tren positif. Pada 2026, pertumbuhan ekonomi DIJ diprakirakan berada pada kisaran 4,9 hingga 5,7 persen, didukung aktivitas domestik yang tetap kuat, penguatan konektivitas antarwilayah Joglo-Semar, serta peluang perluasan pasar ekspor melalui perjanjian IEU-CEPA.
"Sinergi antara pemerintah daerah, Bank Indonesia, dan seluruh pemangku kepentingan akan terus diperkuat agar pertumbuhan ekonomi DIY tetap berkualitas dan berkelanjutan," tuturnya. (iza)
Editor : Sevtia Eka Novarita