Gempa Pacitan Masuk Kategori Megathust, Patut Disyukuri Tidak Mencapai Magnitudo 7,0

Iwa Ikhwanudin • Dipublikasikan Jumat, 6 Februari 2026 | 20:35 WIB

 

Petugas mengamati kerusakan dampak gempa bumi di Balai Besar Laboratorium Kesehatan Masyarakat (BB Labkesmas) Yogyakarta, di Jalan Imogiri Timur, Bantul, Jumat (6/2/2026).
Petugas mengamati kerusakan dampak gempa bumi di Balai Besar Laboratorium Kesehatan Masyarakat (BB Labkesmas) Yogyakarta, di Jalan Imogiri Timur, Bantul, Jumat (6/2/2026).

JOGJA - Gempa bumi bermagnitudo 6,2 kemarin dinihari dirasakan kuat oleh warga DIY, bahkan hingga Banjarnegara, Jawa Tengah. 

Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) sendiri memastikan gempa ini tidak berpotensi tsunami.

Menurut analisis BMKG, pusat gempa berada di laut sekitar 89–90 km tenggara Pacitan dengan kedalaman dangkal sekitar 10–20 km. 

Gempa ini termasuk jenis megathrust di zona subduksi Jawa, ditandai mekanisme sumber berupa pergerakan naik (thrust fault) akibat aktivitas lempeng Indo-Australia yang menunjam ke bawah lempeng Eurasia.

Daryono Prawiro Sekti, seismolog senior BMKG dalam utas X-nya menjelaskan, gempa ini patut disyukuri karena tidak mencapai magnitudo 7,0. 

"Jika mencapai M7,0 dengan kedalaman dangkal dan thrusting di laut, potensi tsunami jauh lebih tinggi," tulis Daryono.

Guncangan terasa kuat hingga ke berbagai wilayah, termasuk Jogjakarta (terutama Gunungkidul dan Bantul), Kulon Progo, serta sebagian Jawa Tengah dan Jawa Timur.

Banyak warga terbangun dari tidur, sebagian berhamburan keluar rumah, dan kentongan dibunyikan sebagai tanda kewaspadaan.

Warga mengaku ini gempa bumi cukup kuat yang dirasakan setelah gempa dahsyat 20 tahun lalu, tepatnya 27 Mei 2006. (iwa/laz)

 

Editor : Herpri Kartun
Sumber : Radar Jogja
gempa pacitan 2026 Gempa pacitan tsunami banjarnegara dampak gempa Thrust fault gempa tektonik gempa gempa bumi Kewaspadaan megathrust Gunungkidul AKP Lempeng Eurasia eurasia gempa jogja Jogja