JOGJA - Genangan air yang kerap muncul saat musim hujan di kawasan Langensari dan Kampung Klitren belum juga teratasi sejak 1990-an.
Dinas PUPKP Kota Jogja mengakui, sistem drainase yang tidak memadai serta posisi wilayah yang berada di cekungan membuat Embung Langensari belum efektif mengurangi genangan di dua titik rawan tersebut.
Kepala Bidang Sumber Daya Air dan Drainase Dinas PUPKP Kota Jogja Rahmawan Kurniadi mengatakan, penyebab genangan di dua titik yang masuk wilayah Kemantren Gondokusuman karena saluran air kurang memadai.
Sehingga ketika intensitas hujan cukup lebat tidak mampu menampung debit air.
Menurutnya, kehadiran Embung Langensari juga tidak mampu mengatasi genangan di dua titik tersebut. Sebab elevasi aliran air menuju embung lebih tinggi dibandingkan lokasi genangan.
Bahkan karena lokasi di Langensari dan Kampung Klitren yang berada di cekungan, membuat genangan di dua lokasi tersebut belum dapat teratasi sejak 1990-an lalu.
“Rencana kami membuat saluran baru ke arah barat ditarik ke Sungai Belik,” ujar Rahmawan di Balai Kota Jogja, Selasa (3/2/2026).
Meksipun sudah ada rencana, dia mengaku proyek penanganan genangan di Langensari dan Kampung Klitren belum dapat dilakukan tahun ini.
Paling cepat bisa direalisasikan tahun depan bersamaan dengan periode penganggaran baru.
Kendati begitu, pada tahun ini tetap ada proyek penanganan di sejumlah titik. Meliputi pembangunan drainase di Jalan Kemasan– Nyi Pembayun Kemantren Kotagede dengan nilai sekitar Rp 3 miliar. Lalu pembesaran saluran di Jalan Rejowinangun agar drainase lebih optimal.
Pihaknya juga menyiapkan anggaran insidentil sekitar Rp 2 miliar untuk menangani kerusakan drainase yang bersifat mendesak. Misalnya yang berada di gang-gang permukiman kawasan padat penduduk.
“Kami mengalokasikan anggaran sekitar Rp 14,8 miliar untuk kegiatan drainase. Mencakup pembangunan baru, operasi dan pemeliharaan, serta penanganan insidentil,” bebernya.
Wali Kota Jogja Hasto Wardoyo mengatakan, upaya penanganan genangan juga dilakukan dengan pembuatan sumur resapan.
Pada tahun ini program tersebut difokuskan pada kawasan permukiman bantaran sungai.
Hasto menilai, sumur resapan memiliki peran penting karena dapat menampung air hujan. Sehingga diyakini dapat mencegah genangan karena air hujan tidak langsung menuju aliran sungai. Bahkan air hujan di dalam sumur resapan juga bisa dimanfaatkan masyarakat untuk tabungan air bersih.
“Jika air hujan lari semua ke sungai, itu yang membuat banjir,” katanya belum lama ini. (inu/wia)
Editor : Winda Atika Ira Puspita