JOGJA - Dinas Perindustrian Koperasi Usaha Kecil dan Menengah (Disperinkop UKM) Kota Jogja mengungkap pelaku usaha kreatif dan UMKM masih memiliki kendala mengembangkan usahanya hingga luar daerah. Kurangnya hubungan dengan investor menjadi salah satu penyebabnya.
Kepala Disperinkop UKM Kota Jogja Tri Karyadi Riyanto Raharjo mengatakan, hubungan antara pelaku usaha dengan investor memiliki dampak besar menciptakan ekosistem usaha yang lebih luas. Namun terbatasnya ruang bertemu antara pelaku usaha dan investor kerap membuat pelaku usaha hanya nyaman di wilayahnya sendiri.
“Karena kapasitas kami memang masih ada keterbatasan untuk bertemu dengan para investor. Sehingga perlu bergabung dengan berbagai aplikasi, supaya potensi terbuka lebar,” Totok di sela Kick Off Meet The Investor (MTI)#3 yang digelar di wilayah Sagan Jumat (30/1).
Totok berkomitmen memperluas jangkauan pasar dan akses modal bagi pelaku usaha lokal melalui integrasi ekosistem digital. Sehingga mulai tahun ini pihaknya akan segera melakukan inventarisasi pelaku usaha yang sudah siap untuk bertemu dengan investor.
Menurut dia, upaya tersebut juga untuk memutus rantai dominasi pelaku usaha itu-itu saja di panggung nasional maupun internasional. Lewat pendataan yang tepat, diharapkan muncul wajah baru dari kalangan anak muda yang mampu bersaing.
“Selama memang 4L atau lu lagi lu lagi, sehingga saya konsen dengan ini, MTI akan kami manfaatkan dengan komunitas-komunitas yang kami bina,” terang Totok.
Ketua Asosiasi Pengusaha Kreatif Jaya (APKJ) DIY Ridha Perwira mengungkapkan, Jogja memiliki potensi besar untuk dilirik investor. Terkhusus pada sektor usaha pariwisata, industri kreatif, dan teknologi.
Ridha yakin, jika semakin banyak investor hadir di Jogja maka pelaku usaha akan berkembang pesat. Namun seiring dengan itu pelaku usaha harus memiliki usaha yang sehat dan siap terlebih dahulu.
“Kesiapan bisnis menjadi kunci keberhasilan kerjasama investasi,” bebernya.
Sementara Ketua Meet The Investor #3 Rezky Ananda menambahkan, dalam kegiatan yang digelarnya peserta akan berasal dari berbagai daerah. Nilai investasi yang ditawarkan mulai dari Rp 500 juta hingga Rp 100 miliar.
“Tahun ketiga ini, kami melibatkan lebih banyak sektor ekonomi. Tidak hanya teknologi,” terang Rezky. (inu)
Editor : Sevtia Eka Novarita