Jogja Sleman Bantul Gunungkidul Kulon Progo Sport Jogja 24 Jam Weekend Jateng Nusantara Internasional Ekonomi Education Expo Ramadan Sosok Opini Visual Report Urban Legend

Diskusi dan Tasyakuran Gelar Pahlawan Nasional Soeharto Digelar di Jogja, Gandeng Guru Sejarah hingga Mahasiswa

Fahmi Fahriza • Minggu, 1 Februari 2026 | 23:45 WIB
BERDIALOG: Sesi diskusi dan tasyakuran gelar pahlawan nasional yang diterima oleh Soeharto di Jogja Sabtu (31/1).
BERDIALOG: Sesi diskusi dan tasyakuran gelar pahlawan nasional yang diterima oleh Soeharto di Jogja Sabtu (31/1).

JOGJA - Soeharto yang menerima gelar pahlawan nasional pada 10 November 2025 dinilai pantas oleh sejumlah pihak. Hal ini karena berbagai peran Soeharto yang disebut memiliki nilai kepahlawanan. Baik di bidang militer, pembangunan, maupun religiusitas.

"Beliau satu-satunya TNI yang mendapatkan pangkat panglima sebanyak sembilan kali," kata Chatarina, ketua penyelenggara diskusi dan tasyakuran “Meneladani Kepahlawanan Bapak Jenderal Besar H. M. Soeharto” di Jogja Sabtu (31/1).

Di bidang religiusitas, lanjutnya, Soeharto membangun lebih dari 900 masjid. Program pembangunan nasional pun dirancang secara bertahap melalui Repelita. Selain itu, Soeharto juga terlibat dalam salah satu peristiwa yang dianggap paling heroik Serangan Umum 1 Maret 1949. "Beliau sangat layak mendapatkan gelar pahlawan nasional ini," tegasnya.

Kegiatan ini, lanjutnya, merupakan inisiasi dari Soehardjo Soebardi yang merupakan adik Soeharto. Menggandeng guru sejarah tingkat SMA se-DIY, dosen, mahasiswa, dan masyarakat umum. "Peserta paling banyak memang guru sejarah SMA. Harapannya, mereka bisa menyampaikan informasi yang benar kepada siswa-siswanya," ujar Rina.

Komandan Korem 072/Pamungkas DIY Brigjen (TNI) Sujarwo selaku keynote speaker menyebut, Menurut Bambang, Soeharto dikenal sebagai sosok pemimpin yang bekerja dalam senyap dan memikul tanggung jawab besar di tengah situasi negara yang berada di persimpangan sejarah.

"Ketika beliau memimpin, negara berada di ambang runtuh, di tengah konflik ideologi dan krisis ekonomi. Kepemimpinan seperti ini membutuhkan keteguhan batin," ungkapnya.

Selain itu, ia juga menegaskan bahwa penganugerahan gelar pahlawan nasional bukan bentuk pengkultusan pribadi. "Ini bukan penghapusan ruang kritik. Tokoh besar harus dibaca secara utuh. Kekuasaan adalah amanah, bukan tujuan," tegas Bambang. (iza/eno)

Editor : Sevtia Eka Novarita
#Repelita #Serangan Umum 1 Maret 1949 #pembangunan nasiona #soeharto #DIY #Gelar Pahlawan Nasioal #Guru Sejarah