Jogja Sleman Bantul Gunungkidul Kulon Progo Sport Jogja 24 Jam Weekend Jateng Nusantara Internasional Ekonomi Education Expo Ramadan Sosok Opini Visual Report Urban Legend

Respons Meirina Fitriani, Penjual Es Gabus di Jogja tentang Kasus Sudrajat di Bogor, Miris Tuduhan Tak Berdasar Logika

Iwan Nurwanto • Kamis, 29 Januari 2026 | 21:41 WIB

 

OLDIES: Meirina menunjukkan es gabus yang dijualnya di toko Es Gabus Jogja Kota, Kampung Pengok, Demangan, Gondokusuman, kemarin (29/1).
OLDIES: Meirina menunjukkan es gabus yang dijualnya di toko Es Gabus Jogja Kota, Kampung Pengok, Demangan, Gondokusuman, kemarin (29/1).

JOGJA - Kuliner jadul es gabus belakangan menjadi perbincangan hangat pascavideo viral seorang pedagang keliling bernama Sudrajat dituduh menjual es berbahan dasar spons oleh oknum aparat. Meirina Fitriani, penjual es gabus di Demangan, Kota Jogja, merespon miris hal itu. Namun juga berharap bisa menjadi momentum kebangkitan kuliner jadul di era sekarang.

 

Meirina merupakan salah seorang penjual es gabus yang sudah melalang buana di Jogjakarta sejak tahun 2018 lalu. Lapaknya kerap menghiasi berbagai event. Seperti di Pasar Kangen, Sunday Morning (Sunmor) UGM, hingga booth acara di mal.


Di tengah hangatnya perbicangan tentang es gabus, pemilik toko Es Gabus Jogja ini mengaku miris dengan tuduhan negatif terhadap salah satu kuliner jadul itu. Karena sejatinya, es gabus merupakan jajanan yang disukai anak-anak dan sangat aman dikonsumsi.


Adapun bahan utama es gabus terbuat dari tepung hunkwe. Tepung berbahan dasar kacang hijau itu dicampur dengan gula, penambah rasa, serta pewarna makanan agar lebih menarik. Bahan-bahan itu kemudian dimasak lalu dibekukan di dalam freezer.


Dalam kondisi beku, es gabus memang memiliki tekstur yang empuk namun renyah ketika digigit seperti spon. Sementara jika tidak dalam kondisi beku, es gabus cenderung mirip seperti kue kenyal.


Menurut Meirina, adanya anggapan es gabus terbuat dari spons disebabkan minimnya edukasi kepada generasi sekarang tentang kuliner jadul. Kemudian cepat mengambil keputusan bahwa es gabus terbuat dari bahan berbahaya.


Kalau pun, misalnya, jika benar mengandung bahan spon, maka es gabus pasti tidak dapat dikonsumsi karena sulit dikunyah. Lantaran secara logika spon juga sangat sulit dirobek menggunakan tangan.


"Mungkin karena zaman sudah berubah, orang tahunya es itu ya harus bisa cair. Mereka tidak tahu es legend itu seperti apa," ujar Meirina kepada Radar Jogja, kamis (29/1).


Di balik ramainya informasi terkait tuduhan kuliner berbahan spon, Meirina berharap fenomena itu menjadi momentum kebangkitan kuliner jadul. Sehingga kuliner yang semakin meredup bisa lebih dikenal oleh anak-anak zaman sekarang.


Sebab, menurutnya, penjual es gabus yang masih bertahan saat ini tengah memperjuangkan kelestarian kuliner yang dulu menjadi favorit. Bahkan tidak sedikit pula penjualnya yang merupakan tulang punggung keluarga seperti Sudrajat.


"Harapannya kuliner jadul ini bisa diperkenalkan lagi. Ini adalah warisan yang harus dilestarikan, bukan malah diberi perspektif buruk," tandas Meirina. (inu/laz)

Editor : Herpri Kartun
#Es Gabus #kuliner jadul #UGM #Viral #Sunday Morning