Jogja Sleman Bantul Gunungkidul Kulon Progo Sport Jogja 24 Jam Weekend Jateng Nusantara Internasional Ekonomi Education Expo Ramadan Sosok Opini Visual Report Urban Legend

Dapat Menyerang Organ Vital hingga Kematian, Bahaya Leptospirosis Jika Telat Penanganan

Agung Dwi Prakoso • Selasa, 27 Januari 2026 | 13:43 WIB
Kepala Dinas Kesehatan (Dinkes) Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) Gregorius Anung Trihadi.
Kepala Dinas Kesehatan (Dinkes) Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) Gregorius Anung Trihadi.

JOGJA- Penyakit leptospirosis tidak bisa dianggap remeh. Infeksi bakkteri leptospira yang mayoritas berasal dari tikus itu dapat menyerang organ vital hingga menyebabkan kematian bila tidak segera mendapatkan penanganan.

Kepala Dinas Kesehatan (Dinkes) Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) Gregorius Anung Trihadi mengatakan penyakit leptospirosis sering dijumpai ketika musim hujan. Penyakit tersebut masuk dalam kategori penyakit endemis

"Di beberapa kabupaten/kota virus itu selalu ada, mungkin 1 hingga tiga kasus akan selalu ada," ujarnya saat dikonirmasi, Selasa (27/1/2026).

Penyakit tersebut umum terjadi di tengah masyarakat. Khususnnya bagi petani dan mempunyai risiko yang cukup tinggi. Tingginya risiko terhadap penyakit itu belum benar-benar diketahui oleh masyarakat.

"Kalau kita tahu kan faktor risiko leptospirosis itu kan tikus ya, tikus di sawah terutama," bebernya.

Mekanisme penularan bakteri leptospirosis banyak dibawa oleh tikus. Bakteri tersebut berasal dari kotoran maupun air kencing yang bercampur dengan tanah di sawah.

"Tempat masuknya itu biasanya luka yang ada di tubuh manusia," ucapnya.

Informasi itu lah yang sering disampaikan Dinkes DIJ kepada masyarakat. Namun, beberapa masyarakat sulit untuk memahami bahkan abai terhadap itu. Kepada para petani ia mengimbau agar menggunakan sepatu atau pelindung ketika berkegiatan di sawah.

"Beberapa petani bilang pakai sepatu itu menyulitkan, tapi kalau ada luka risikonya benar-benar tinggi," tegasnya.

Bakteri Leptospirosis tidak hanya ditemukan di persawaha. Di kota, bakteri itu dapat ditemukan di tempat pembuangan sampah maupun kawasan kumuh. Perilaku Hidup Bersih dan Sehat (PHBS) perlu diperhatikan sebagai upaya antisipasi.

Leptospirosis berpotensi menimmbulkan komplikasi di beberapa organ penting penderitanya. Misalnya ginjal dan sebagainya. Bahkan infeksi tersebut bisa menimbulkan kematian. Khususnya jika infeksi awal terlambat ditangani.

"Asalkan didiagnosis sejak dini dan ditangani tenaga kesehatan itu tidak sampai komplikasi," ucapnya.

Gejala infeksi leptospirosis sama seperti virus influenza. Penderita biasanya demam, tidak enak badan dan sebagainya.

Kepala Bidang Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Dinas Kesehatan DIY Ari Kurniawati menambahkan berdasarkan data Dinkes DIJ ditemukan kasus leptospirosis sebanyak 453 sepanjang 2025 di DIJ. Ada 12 orang yang meninggal dunia karena penyakit tersebut.

"Bantul ada 227 kasus dengan 12 kematian, Sleman 118 kasus dengan 11 kasus kematian, Kulonprogo 49 kasus dengan kasus 6 kematian, Kota Jogja 32 kasus dengan 8 kematian, serta Gunungkidul 27 kasus dengan 1 kematian," ujarnya. (oso)

Editor : Iwa Ikhwanudin
#kematian #menyerang #Dapat #hingga #organ vital #bahaya #leptospirosis