JOGJA - Predikat taylor street yang sudah puluhan tahun membekas di Jalan Dr. Sardjito, Gondokusuman, Kota Jogja kini tinggal kenangan. Kelurahan Terban memastikan seluruh kios penjahit dan permak jins yang berdiri di sepanjang jalan itu dirobohkan pada Sabtu (24/1/2025) pagi.
Pantauan Radar Jogja di hari terakhir sebelum perobohan masih ada aktivitas sejumlah pemilik kios. Beberapa di antaranya mengambil sisa-sisa bangunan yang masih dapat dimanfaatkan. Seperti kayu dan atap seng.
Salah satunya Saheri, dia mengaku berat meninggalkan tempatnya mengais rezeki sejak 17 tahun lalu itu. Namun karena sudah menjadi kebijakan pemerintah, dirinya tidak bisa berbuat banyak. Hanya menurut dan berpindah ke lokasi lain.
Beratnya hati Saheri juga bukan tanpa alasan, lapak jahit di utara Jalan Dr Sardjito menjadi salah satu sumber pendapatannya untuk menguliahkan anaknya di UGM. Serta menyimpan kenangan bersama dengan para pelanggan yang berasal dari berbagai daerah.
Meski sudah disediakan tempat baru di Pasar Terban. Penjahit asal Madura itu memilih lokasi lain di kawasan Pogung. Alasannya karena bangunan kios di Pasar Terban kurang prospek bagi penjahit.
“Di Pasar Terban itu kurang layak dipakai, tidak sesuai lah pokoknya,” ujar Saheri saat ditemui.
Berbeda dengan Saheri, penjahit lain bernama Abdul Hafid justru memilih memanfaatkan lokasi yang disediakan. Namun meski memutuskan pindah ke Pasar Terban ada beberapa catatan kepada pemerintah.
Misalnya soal permasalahan bau menyengat yang berasal dari pasar ayam. Lalu juga tidak adanya eskalator. Serta juga kewajiban parkir.
Selama belasan tahun di lokasi lama, Hafid menyebut pelanggan merasa dimudahkan. Sebab bisa langsung berhenti tepat di depan kios. Kondisinya berbeda dengan Pasar Terban yang mengharuskan pelanggan masuk ke area parkir dan naik tangga.
“Tapi saya apresiasi konstruksi bangunan yang lebih permanen dan tahan cuaca, serta pengelolaan sampah dan ketersediaan air yang lebih baik,” katanya.
Lurah Terban Sigit Kusuma Atmaja mengatakan, pihaknya mengerahkan ekskavator untuk membersihkan 76 kios penjahit dan permak jins. Kemudian tempat berdirinya lapak-lapak taylor street dikembalikan fungsinya sebagai trotoar.
Selain di Jalan Dr Sardjito, pembersihan lapak pedagang kaki lima juga dilakukan di Jalan Prof Kahar Muzakir dan Cik Di Tiro. Namun pembongkaran di dua lokasi tersebut hanya menggunakan tenaga manual karena mayoritas bangunan menggunakan kayu.
Berbeda dengan lapak permak jins dan penjahit di Jalan Dr. Sardjito yang sudah dibuat bangunan semi permanen menggunakan bata ringan. Sehingga memerlukan peralatan yang bermesin agar pembongkaran lebih mudah.
“Besok pukul 08.00 alat berat akan diterjunkan di lokasi (Jalan Dr Sardjito),” ujar Sigit saat dikonfirmasi lewat pesan singkat. (inu)
Editor : Iwa Ikhwanudin