JOGJA - Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) memprediksi musim penghujan di DIJ berakhir April mendatang. Sementara puncak musim penghujan diprediksi berlangsung hingga Februari.
Kepala Stasiun Klimatologi BMKG Jogjakarta Reni Kraningtyas mengatakan, berakhirnya musim penghujan ditandai dengan penurunan intensitas hujan. Pada April curah hujan berkisar 201 hingga 300 mm per bulan atau masuk kategori menengah.
Angka itu turun signifikan dibandingkan dua bulan sebelumnya. Sebab pada blan Februari dan Maret curah hujan di DIJ berkisar antara 201 hingga 400 mm dengan kategori hujan menengah-tinggi.
“Musim hujan diprediksi berakhir pada dasarian satu sampai tiga (awal hingga akhir bulan) April 2026,” ujar Reni saat dikonfirmasi, Selasa (20/1).
Sementara terkait dengan kondisi saat ini, dia menyatakan masih memasuki puncak musim penghujan. Curah hujan masuk kategori tinggi. Serta dimungkinkan terus bertahan hingga bulan Februari.
Dengan kondisi tersebut, Reni meminta agar masyarakat menyiapkan langkah mitigasi cuaca ekstrem. Sebab puncak penghujan membuat potensi bencana hidrometeorologi seperti banjir, tanah longsor dan angin kencang meningkat.
“Langkah mitigasi dampak musim hujan juga perlu dengan menyesuaikan pola tanam, agar tidak terjadi gagal panen” imbuhnya.
Baca Juga: Gaet Jacksen Tiago, MilkLife Soccer Challenge Seri 2 Siap Pantau Bakat Pesepakbola Putri Kalimantan
Sementara itu, Ketua Tim Kerja Kedaruratan dan Logistik Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kota Jogja Petrus Singgih Purnomo mengaku sudah memperpanjang status siaga darurat hingga bulan Februari. Setelah sebelumnya berakhir pada bulan Desember 2025.
Kebijakan tersebut tertuang dalam Keputusan Wali Kota Jogja Nomor 490 tahun 2025. Serta diambil berdasarkan periode puncak musim penghujan. “Mengingat prediksi puncak musim hujan pada Januari-Februari 2026,” jelas Petrus. (inu/pra)
Editor : Heru Pratomo