JOGJA – Penerapan palang parkir otomatis (gate system) disoroti kalangan juru parkir (jukir) pasar tradisional yang letaknya di pinggir jalan raya.
Sebab, usulan Komisi B DPRD Kota Jogja itu dinilai justru menimbulkan kendala baru. Salah satunya, kemacetan.
Seorang jukir di kawasan Pasar Kranggan yang enggan disebut identitasnya menilai, palang parkir otomatis sulit diterapkan pada pasar pinggir jalan raya.
Terlebih, seperti Pasar Kranggan di kawasan Tugu yang padat kendaraan.
“Kalau bahu jalan kemungkinan tidak bisa. Karena bakalan macet,” ujar jukir tersebut kepada Radar Jogja, Senin (19/1/2026).
Dia menilai, sebelum kebijakan itu diterapkan, Pemkot perlu menyiapkan lahan parkir yang memadai di Pasar Kranggan terlebih dahulu.
Sebab palang parkir otomatis membutuhkan lahan yang luas dan tertutup. Karena kendaraan roda empat maupun roda dua juga harus diarahkan agar masuk ke kawasan parkir dengan sistem satu pintu.
“Kalau belum ada lahan, pasti susah diterapkan satu pintu,” beber jukir berusia sekitar 50 tahun ini.
Usulan penerapan palang parkir otomatis muncul dari Sekretaris Komisi B DPRD Kota Jogja Munazar.
Politisi Partai Golkar ini menyebut, parkir otomatis dapat meminimalisasi bocornya pendapatan asli daerah yang bersumber dari retribusi parkir.
Munazar menilai, parkir otomatis dengan palang pintu juga tidak hanya meningkatkan transparansi pengelolaan retribusi.
Namun juga memberi kenyamanan bagi pengunjung pasar tradisional karena penerapan tarif lebih pasti.
Sebagai langkah awal, dia menyebut parkir dengan sistem pintu otomatis bisa diterapkan pada pasar tradisional yang memiliki kesiapan lahan dan jumlah pengunjung besar.
Misalnya seperti Pasar Beringharjo, Pasar Giwangan, dan Pasar Ngasem. Kemudian pasar lain bisa menyesuaikan.
“Pasar tradisional sudah saatnya dikelola dengan pendekatan modern tanpa menghilangkan fungsi dasarnya,” jelas Munazar.
Sementara itu, Kepala Bidang Pasar Rakyat Dinas Perdagangan Kota Jogja Gunawan Nugroho Utomo menyatakan, palang parkir otomatis sangat mungkin diterapkan pada seluruh pasar tradisional di Kota Jogja. Hanya memang untuk Pasar Kranggan perlu persiapan lebih matang.
Sebab, Pasar Kranggan harus dipersiapkan lahan untuk menempatkan boks karcis dan palang.
Lalu juga perlu penyesuaian karena area parkir di pasar tersebut juga belum memiliki batas kawasan yang jelas.
“Kalau pasar yang ada kawasan TKP (tempat khusus parkir) tentu akan lebih efektif menggunakan gate. Karena lahan, batas, dan akses keluar masuk kendaraan cukup jelas,” ungkapnya. (inu/wia)
Editor : Winda Atika Ira Puspita