JOGJA - Ini ironi di kota pendikan. Dinas Pendidikan Pemuda dan Olahraga (Disdikpora) Kota Jogja mengungkap ada ribuan siswa TK sampai SMP yang belum mahir membaca.
Namun, permasalahan itu kini tengah diatasi.
Kepala Disdikpora Kota Jogja Budi Santosa Asrori mengatakan, berdasarkan hasil pendataannya ada sekitar 1.600 siswa yang belum mahir membaca.
Jumlah itu tersebar pada berbagai jenjang. Baik TK, SD, maupun SMP dari berbagai tingkatan kelas.
Budi mengaku belum bisa membeberkan secara rinci terkait data sebaran siswa yang belum mahir membaca pada tiap jenjang.
Termasuk apakah juga mengalami kesulitan menulis dan menghitung. Namun dinas telah meminta agar sekolah menyediakan guru pendamping khusus.
Menurutnya, ada berbagai faktor yang membuat ribuan siswa TK/SD belum mahir membaca. Penyebab utama karena merupakan anak berkebutuhan khusus (ABK) dan sebagian masuk kategori lambat belajar (slow learner).
“Sekitar 55 persen adalah slow learner dari berbagai tingkatan. Mengapa banyak, karena kami rajin asesmen,” ujar Budi saat dikonfirmasi lewat pesan singkat, Juamt (16/1/2026).
Kasus siswa yang kesulitan membaca ada di SDN Gedongtengen, Kota Jogja. Kepala SDN Gedongtengen Dianing Kurniastuti mengungkapkan, pada tahun ajaran 2024/2025 pihaknya menangani 25 siswa berkebutuhan khusus yang mengalami kesulitan membaca dari kelas 1 sampai 6.
Dianing menyatakan, siswa yang mengalami kesulitan membaca di sekolahnya telah dilakukan pendampingan khusus melalui program klinik literasi.
Program itu mengintensifkan pendampingan kemampuan membaca dan menulis siswa pada saat jam istirahat. "Sehingga semuanya, alhamdulilah sekarang sudah teratasi,” katanya.
Dianing membeberkan, di SDN Gedongtengen kasus siswa yang belum mahir membaca disebabkan berbagai faktor.
Utamanya karena anak-anak hanya sibuk dengan permainan gadget. Alhasil membuat siswa tidak memiliki minat mengasah kemampuan membaca melalui buku.
Kemudian faktor lain, karena kurangnya pendampingan orang tua terhadap siswa.
Sehingga kemampuan membaca dan menulis hanya didapatkan di sekolah tanpa ada dukungan pembelajaran dari rumah.
Lalu berikutnya, dimungkinkan karena pengaruh pembelajaran daring saat masa pandemi Covid-19.
Menurut Dianing, pada masa itu tugas yang diberikan dari sekolah kepada siswa cenderung lebih banyak dikerjakan oleh orang tua.
"Begitu masuk ke sekolah pembelajaran lagi, secara otomatis banyak anak yang tidak bisa membaca karena tidak mengenal yang namanya huruf,” bebernya. (inu/laz)
Editor : Herpri Kartun