JOGJA - Karaton Ngayogyakarta Hadiningrat tahun ini menggelar Tingalan Jumenengan Dalem atau peringatan ulang tahun kenaikan tahta Sri Sultan Hamengku Bawono Ka 10 yang berbeda dengan tahun sebelumnya. Labuhan dilakukan di empat lokasi karena kali ini jatuh di tahun Dal 1959 dalam kalender Jawa dan bertepatan dengan tahun kelahiran Nabi Muhammmad SAW.
Penghageng II Kawedanan Reksa Suyasa Keraton Jogja KRT Kusumonegoro mengatakan, prosesi Tingalan Jumenengan Dalem digelar sedikit berbeda. Dalam tradisi keraton, siklus delapan tahun atau sewindu terdapat dua prosesi Tingalan Jumenangan Dalem yang dianggap spesial atau pelaksanaannya lebih besar.
"Tahun Dal dan Wawu perayaannya dianggap lebih besar dibandingkan tahun lainnya," ujarnya dalam keterangan tertulis yang diterima Jumat (16/1).
Tahun Wawu, lanjutnya, merupakan tahun Jawa yang terdapat momentum Sultan Hamengku Bawono Ka 10 jumeneng nata atau bisa juga disebut penobatan sebagai raja. Kemudian tahun Dal dianggap spesial karena merupakan tahun kelahiran Nabi Muhammad SAW.
"Biasanya Keraton Jogja mengadakan Labuhan Alit (patuh), tapi tahun ini akan digelar Labuhan Ageng," bebernya.
Kanjeng Kusumonegoro, sapaan akrabnya, menjelaskan Labuhan Alit adalah prosesi labuhan pada umumnya yang dilakukan hanya di tiga tempat yakni Gunung Merapi, Pantai Parangkusumo, dan Gunung Lawu. Sedangkan Labuhan Agung prosesi labuhan dilakukan di empat lokasi.
"Khusus Labuhan Ageng, selain tiga tempat di atas, masih ada satu tempat lagi yaitu Dlepih Kayangan di Kabupaten Wonogiri," paparnya.
Menurutnya, prosesi labuhan di Petilasan Dlepih itu senantiasa mengingatkan raja yang bertahta di Keraton Jogja dalam menjaga marwah para leluhur. Begitu juga Sri Sultan Hamengku Bawono Ka 10 yang melestarikan prosesi tersebut.
"Mengingat/napak tilas tempat-tempat di mana pendiri Wangsa Mataram, Panembahan Senopati berkhalwat untuk mendekatkan diri kepada Sang Pencipta sebelum mendirikan Kerajaan Mataram," jelasnya.
Dikatakan, Petilasan Dlepih juga pernah digunakan sebagai lokasi bertapa para raja Mataram dan Kasultanan Jogjakarta. Mulai Pangeran Mangkubumi yang kelak bergelar Sri Sultan Hamengku Buwono I dan Sultan Agung Hanyakrakusumo.
Ia juga menjelaskan arti dari labuhan. Berasal dari kata labuh yang artinya membuang, meletakkan atau menghanyutkan. Tujuan prosesi sebagai doa dan pengharapan untuk membuang segala macam sifat buruk. "Pelaksanaannya, Keraton Jogja melabuh benda-benda tertentu atau ubarampe labuhan," ucapnya.
Khusus Labuhan Ageng Dal 1959, terdapat ubarampe tambahan berupa songsong gilap (payung) yang turut disertakan dalam Labuhan Parangkusumo. Sementara itu, terdapat ubarampe kambil watangan atau pelana kuda yang wajib disertakan dalam Labuhan Ageng di Gunung Merapi, serta dua songsong (payung) dalam Labuhan Lawu.
Tingalan Jumenengan Dalem diperingati setiap tanggal 29 Rejeb dalam kalender Jawa Sultanagungan dan 18 Januari dalam penanggalan Masehi. Sultan Hamengku Bawono Ka 10 tahun ini telah bertahta selama 38 tahun dalam penanggalangan Jawa dan 37 tahun dalam Masehi.
Acara peringatan dari Keraton Jogja yang yang akan digelar, di antaranya, prosesi bucalan atau empat penjuru tapal batas wilayah inti (kuthagara). Selanjutnya, ngebluk sebuah upacara mempersiapkan jladren-adonan apem yang merupakan simbol permohonan ampun kepada Tuhan.
Ada juga prosesi ngapem, Sabtu (17/1). Ada dua macam apem yang dibuat yaitu apem mustaka (apem besar) dan apem alit (apem kecil). Selanjutnya prosesi sugengan (18/1) yakni upacara selamatan yang dihadiri kerabat keraton beserta abdi dalem.
Kemudian Labuhan Parangkusumo dan Dlepih dilaksanakan pada 30 Rejeb atau Senin, 19 Januari 2026. Disusul Labuhan Lawu dan Labuhan Merapi pada 1 Ruwah atau hari Selasa, 20 Januari 2026. (oso/laz)
Editor : Herpri Kartun