Jogja Sleman Bantul Gunungkidul Kulon Progo Sport Jogja 24 Jam Weekend Jateng Nusantara Internasional Ekonomi Education Expo Ramadan Sosok Opini Visual Report Urban Legend

Bangunan Baru Dikeluhkan Pedagang, Pemkot Jogja Bakal Evaluasi Desain Pasar Terban

Iwan Nurwanto • Kamis, 15 Januari 2026 | 14:48 WIB

Kondisi lantai tiga Pasar Terban pada Selasa (13/1/2026). Bangunan baru pasar di Kemantren Gondokusuman itu dinilai sejumlah pedagang terlalu tertutup.
Kondisi lantai tiga Pasar Terban pada Selasa (13/1/2026). Bangunan baru pasar di Kemantren Gondokusuman itu dinilai sejumlah pedagang terlalu tertutup.
 

JOGJA - Pemerintah Kota (Pemkot) Jogja menyatakan kesiapannya untuk mengevaluasi bangunan Pasar Terban. Langkah tersebut diambil seiring adanya keluhan dari pedagang.

Wali Kota Jogja Hasto Wardoyo mengatakan, bangunan Pasar Terban sampai saat ini belum diserah terimakan oleh pihak kontraktor. Sehingga statusnya masih dalam tahap uji coba.

Selama masa itu, kata Hasto, pihaknya akan mengevaluasi berbagai kekurangan. Termasuk jika ada keluhan yang dirasakan oleh pedagang. Maka akan segera ditindaklanjuti supaya tidak menghambat aktivitas ekonomi di pasar tersebut.

“Sifatnya masih uji coba sambil evaluasi kekurangan. Sehingga kalau masih ada keluhan akan segera kami laporkan untuk ditindaklanjuti,” ujar Hasto saat dikonfirmasi lewat pesan singkat, Kamis (15/1/2026).

Sebagaimana diketahui, desain bangunan baru Pasar Terban memiliki tiga lantai. Lantai paling bawah difungsikan sebagai pasar tradisional dan rumah potong unggas.

Lalu lantai dua diisi pasar buku dan jasa penjahit. Sementara lantai tiga dijadikan pasar kuliner dan pusat jajanan serba ada (pujasera).

Pekerjaan renovasi Pasar Terban dibiayai dan dilaksanakan oleh pemerintah pusat dengan nilai anggaran Rp. 55,9 miliar.

Desain bangunan Pasar Terban pasca direnovasi mendapat sorotan tajam dari pedagang. Misalnya Kristianti, salah satu pedagang kuliner itu mengeluh bau ayam tercium hingga lantai atas.

Kondisi tersebut sangat menganggu karena bau yang timbul kurang sedap. Sehingga dapat mengganggu kenyamanan pembeli. Apalagi yang ingin menikmati makanan.

“Lantai atas menurut saya kurang ventilasi, sehingga bau dari bawah berkumpul di atas,” bebernya.

Bangunan lantai dua juga dikeluhkan oleh penjahit dan permak jins yang tergabung dalam Paguyuban Pinang Perak. Ketua paguyuban Markoni menilai, los bagi penjahit di Pasar Terban kurang representatif.

Alih-alih membuat aktivitas menjahit nyaman, tempat yang disediakan di lantai dua justru membuat tukang jahit kesulitan untuk menempatkan meja dan mesin. Sebabnya, karena meja terbuat dari semen cor yang sulit dipindah-pindah.

“Kalau kondisinya seperti ini malah seperti los daging, bukan tempat menjahit,” sebut Markoni. (inu)

Editor : Iwa Ikhwanudin
#evaluasi #desain #Bangunan Baru #Pemkot Jogja #Dikeluhkan #Pasar terban