JOGJA - Ambisi melestarikan sumbu filosofi sebagai warisan budaya mulai dilakukan Pemkot Jogja. Salah satu yang tengah berjalan adalah melarang bus-bus pariwisata melintas di sepanjang Tugu hingga Titik Nol Kilometer.
Wali Kota Jogja Hasto Wardoyo mengatakan, pelarangan bus pariwisata melintas di dua kawasan itu sebagai langkah penyelamatan nilai historis sumbu filosofi. Sekaligus meningkatkan kenyamanan wisatawan yang selama ini terganggu aktivitas lalu lintas kendaraan besar.
"Sumbu filosofi sedang dikembangkan sedemikian rupa, sehingga kemudian kami (pemkot) menata,” ujar Hasto saat ditemui di Balai Kota Jogja, Jumat (9/1/2026).
Bupati kulon Progo periode 2011-2019 itu mengaku, telah ada beberapa tahap pelarangan bus pariwisata melintas di sumbu filosofi. Misalnya kantong-kantong parkir swasta di sepanjang Jalan Malioboro dan Jalan Pangeran Mangkubumi kini hanya menerima mobil pribadi dan bus kecil.
Untuk kawasan Tugu, Hasto juga menerapkan aturan ketat. Bus pariwisata hanya diperbolehkan melintas jika memiliki tujuan khusus menuju hotel. Sementara bagi bus pariwisata yang tidak memiliki kepentingan membawa tamu hotel, bakal dihalau sejak Simpang Empat Gramedia.
Kebijakan itu dibarengi dengan pemusatan parkir di lahan Eks Menara Kopi bagi bus pariwisata yang menuju Malioboro. Sementara bus pariwisata yang ingin menuju kawasan Nol Kilometer wajib parkir di Tempat Khusus Parkir (TKP) Ngabean.
Hasto mengaku, pihaknya juga segera menghapus TKP Senopati sebagai tempat parkir bus besar. Kebijakan tersebut berlaku ketika Terminal Giwangan siap digunakan sepenuhnya sebagai kantong parkir. “Sehingga Titik Nol benar-benar bersih dari bus besar,” jelasnya.
Kepala Badan Perencanaan dan Pembangunan Daerah (Bappeda) Kota Jogja Agus Tri Haryono menyampaikan, sudah ada lampu hijau Terminal Giwangan sebagai kantong parkir bus pariwisata tahun ini. Sebab pemkot telah memperoleh hak pengelolaan lahan di sisi selatan terminal.
Agus menyebut, ada beberapa dampak positif jika parkir bus pariwisata dipusatkan di Terminal Giwangan. Salah satu yang pasti adalah pengurangan beban lalu lintas di pusat kota. Lalu dampak lain juga pemeraatan aktivitas ekonomi.
"Pengelolaan kawasan Terminal Giwangan pada dasarnya merupakan bagian integral dari perjalanan strategis dan prioritas pembangunan Kota Jogja,” bebernya.
Sementara itu, Kepala Bidang Penataan Bangunan Dinas Pekerjaan Perumahan dan Kawasan Permukiman (PUPKP) Kota Jogja Fakhrul Nur Cahyanto menyebut, langkah optimalisasi infrastruktur Terminal Giwangan sudah dilakukan. Misalnya dengan perbaikan saluran drainase, perbaikan kios, dan perbaikan jalan yang selesai akhir tahun lalu.
Lalu untuk lahan parkir di Terminal Giwangan telah dilakukan perbaikan jalan bergelombang melalui cor beton serta penambahan lampu penerangan jalan umum. Kawasan parkir di terminal itu memiliki luas 3.500 meter persegi.
"Anggaran renovasi Terminal Giwangan sebesar Rp 2,8 miliar, bersumber dari APBD Kota Jogja 2025,” ungkap Fakhrul belum lama ini. (inu/laz)
Editor : Herpri Kartun