Kepala Badan Perencanaan Pembangunan Daerah (Bappeda) Kota Jogja Agus Tri Haryono mengatakan, fasad bangunan lantai atas Pasar Sentul sulit diubah karena terbentur aturan budaya. Sebab ada batasan aktivitas di sekitar Pura Pakualaman.
“Pasar Sentul itu berada di depan Pura Pakualaman, maka desain lantai atasnya harus tertutup betul,” ujar Agus saat ditemui di Balai Kota Jogja, Jumat (8/9/2026).
Mengingat perubahan fasad sulit dilakukan, Agus mengaku sudah menyiapkan solusi bagi pedagang lantai atas pasar tradisional di Kemantren Pakualaman itum Yakni dengan program promosi yang akan dilakukan oleh Dinas Perdagangan Kota Jogja.
Dia menyatakan, kegagalan lantai atas Pasar Sentul juga menjadi evaluasi untuk revitalisasi pasar tradisional lain di Kota Jogja.
Termasuk sebagai pembelajaran dalam revitalisasi Pasar Kranggan yang desainnya dibuat pada tahun ini.
“Pasar Kranggan atasnya rooftop yang bisa untuk ngopi-ngopi, tidak tertutup seperti Pasar Sentul,” kata Agus.
Desain tertutup dan terkesan membelakangi halaman pasar di lantai tiga Pasar Sentul memang menjadi masalah utama bagi pedagang pujasera.
Sebab membuat lapak-lapak pedagang tidak terlihat oleh pengunjung pasar.
Hal itulah yang dirasakan Sri Rahayu, pemilik kios Pedagang Rujak Es Krim Pak Sony ini mengaku setiap hari sepi pembeli. Dia berharap desain lantai atas Pasar Sentul bisa dirubah.
“Selama ini lapak-lapak sepi karena tidak terlihat dari jalan raya, kami berharap bisa dirubah supaya terlihat kalau di lantai atas juga ada aktivitas perdagangan,” pinta Sri. (inu)
Editor : Bahana.