JOGJA - Raja Kasunanan Surakarta Hadiningrat Susuhunan Paku Buwono (PB) XIV Hangabehi bukan hanya menjalankan salat Jumat di masjid-masjid di Surakarta dan sekitarnya.
Namun Sinuhun, demikian sapaan akrabnya, juga melaksanakan ibadah di Masjid Gedhe Mataram Kotagede. Nitilaku leluhur raja-raja Mataram tengah dilakukan.
Setelah menjalankan laku salat Jumat tujuh kali berturut-turut di Masjid Agung Keraton Surakarta sepanjang November-Desember 2025, PB XIV Hangabehi melanjutkan salat Jumat di Masjid Laweyan, Pajang Surakarta, pada 2 Januari 2026.
Setelah itu, dilanjutkan di Masjid Gedhe Mataram Kotagede di Jagalan, Banguntapan, Bantul, Jumat (9/1/2026).
PB XIV Hangabehi tiba sekitar pukul 10.30. Dia tampak menyetir sendiri mobil Innova hitam BE 1657 HF. Selama perjalanan terlihat mendampingi seorang kerabat keraton KPH Atmodiningrat. Sinuhun mengenakan kemeja batik coklat celana gelap dan blangkon warna biru dengan garis putih.
Sejumlah abdi dalem Keraton Surakarta berjajar menyambut. Mereka sehari-hari bertugas di Makam Raja-Raja Mataram Kotagede. Para abdi dalem itu mengenakan beskap warna putih.
Sebelum menunaikan salat Jumat, Sinuhun lebih dulu transit di Bangsal Dhudha. Lokasinya di depan pintu masuk komplek Makam Kotagede. Duduk lesehan sembari bercengkrama.
Sekitar pukul 11.0 beranjak berjalan kaki menuju Masjid Gedhe Mataram. Jaraknya sekitar 150 meter. Sesampai di masjid, mengambil posisi saf depan di sisi utara.
"Menika (Ini, Red) cuma melanjutkan rangkaian setelah tujuh kali selesai Salat Jumat di Masjid Agung Surakarta dan Laweyan,. Lalu berkeinginan lanjut ke sini," ujar PB XIV Hangabehi ditemui usai salat Jumat.
Salat Jumat tujuh kali berturut-turut di Masjid Agung Surakarta menjadi simbol kesetiaan dan ketaatan spiritual.
Baca Juga: DIY Pusat Kedokteran Nuklir Indonesia, Kolegium Tunjuk RSUP Dr. Sardjito sebagai Lokasi Pengembangan
Sedangkan di Masjid Laweyan dipilih karena di kompleks tersebut bersemayam leluhur Mataram, Kiai Ageng Henis, ayah dari Ki Ageng Pemanahan. Atau kakek Panembahan Senopati, raja pertama Dinasti Mataram.
"Masjid ini (Kotagede) salah satu masjid tertua di Indonesia dan bagian dari Mataram. Di sini ada makam para leluhur, ada Ki Ageng Pemanahan, Panembahan Senopati, dan lainnya," beber Sinuhun.
Dari Kotagede, PB XIV Hangabehi berencana melanjutkan salat Jumat ke masjid-masjid yang berhubungan erat dengan Mataram. Beberapa lokasi telah ditentukan.
Namun belum banyak yang didatangi. Ada masjid di Selo, Grobogan, Pengging, Boyolali, Sragen, dan Masjid Jatisobo, Klaten. “Itu baru empat dan masih banyak lagi," ceritanya.
Raja yang lahir dengan nama Bendara Raden Mas (BRM) Suryo Suharto itu tertarik saat mendengar di Jogja juga ada Masjid Panitikan.
Lokasinya di Kampung Nitikan, Umbulharjo, Jogja. PB XIV Hangabehi berencana salat Jumat di Masjid Panitikan yang sekarang dikenal dengan nama Masjid Sulthonain. “Nanti juga akan salat Jumat ke sana,” tuturnya.
Di belakang Masjid Panitikan bersemayam jasad Kanjeng Ratu Paku Buwono, permaisuri Susuhunan PB I bersama putranya Pangan Balitar, dan Raden Rangga, putra Panembahan Senopati.
Ratu Paku Buwono menciptakan sejumlah buku seperti naskah Serat Menak. Kini tersimpan di Perpustakaan Nasional RI. Karya lainnya, Suluk Garwa Kencana. Berisi pengaruh Islam dalam kehidupan dan kebudayaan kerajaan Jawa.
Usai Perjanjian Klaten 27 September 1830, Masjid Panitikan dimiliki kedua kerajaan. Kasunanan Surakarta dan Kasultanan Ngayogyakarta. Disebut masjid kagungandalem (milik kedua kerajaan, Red). Bagian utara milik Kasunanan Surakarta.
Di sisi selatan punya Kasultanan Ngayogyakarta. Lantai milik Kasunanan berwarna abu-abu dengan tembok warna biru muda.
Di sebelah selatan berwarna merah dengan tembok putih sebagai penanda milik Kasultanan. Di atas pintu masjid ada pahatan tulisan Arab “pegon” yang berbunyi, “Masjid ini Panitikan milik Negara Surakarta dibangun Raja Surakarta Paku Buwono IX pada 29 Selasa Kliwon Tahun Alip 1818”.
Baca Juga: Ketahanan Pangan Hargomulyo Berbuah Ganda, Sapi Gaduhan Dongkrak Ekonomi Warga
Setelah dari Kotagede, PB XIV Hangabehi langsung kembali ke Surakarta. Tak ada agenda lain. "Ini mau langsung pulang," tambahnya.
Abdi dalem Keraton Kasunanan Surakarta KRT Purwadi Sosronagoro ikut mendampingi PB XIV setiap kali salat Jumat. Mulai Masjid Agung Surakarta, Laweyan dan Masjid Kotagede. Sudah sembilan kali.
Dia menceritakan, kilas balik leluhur PB XIV. Mulai Panembahan Senopati yang mendirikan Kerajaan Mataram Islam 1583. Dilanjutkan Susuhunan Hanyakrawati. "Dua raja Mataram ini dimakamkan di Kotagede," ujarnya.
Dikatakan, PB XIV melaksanakan salat Jumat di Masjid Kotagede merupakan salah satu cara memuliakan leluhur Mataram. Kotagede merupakan salah satu alat legitimasi mendapat wahyu jatmika atau wahyu kerajaan.
Itu dipercaya dapat menambah aura kewibawaan seorang raja. "Tepat sekali, Sinuhun PB XIV Hangabehi itu sowan sekaligus salat Jumat di sini," jelasnya. (oso/kus/laz)
Editor : Herpri Kartun