JOGJA - Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) Jogjakarta kembali mendeteksi aktivitas siklonik. Fenomena alam tersebut memungkinkan potensi cuaca ekstrem selama awal tahun ini.
Kepala Stasiun Meteorologi BMKG Jogjakarta Warjono mengatakan, berdasar hasil analisis dinamika atmosfer terpantau dua siklon tropis. Yakni Siklon Tropis Iggy yang terbentuk di sebelah selatan Jawa Barat dan Siklon Tropis Hayley di wilayah Australia.
Kedua pusaran badai itu menciptakan pola konvergensi atau pertemuan angin di sepanjang Pulau Jawa, termasuk DIJ. Sehingga memungkinkan peningkatan curah hujan yang dapat disertai dengan angin kencang dan petir.
"Terlebih di wilayah Sleman bagian utara, Kulon Progo dan Gunungkidul bagian utara," ujar Warjono dalam keterangan tertulisnya, Jumat (2/1).
Potensi cuaca ekstrem juga meningkat dengan kondisi tingginya suhu muka laut dan kelembaban udara. Suhu di Laut Jawa dan Samudera Hindia berkisar antara 28 hingga 30 derajat celcius.
Sementara profil kelembaban udara berkisar 50 persen sampai 90 persen. “Kondisi ini membuat pertumbuhan awan hujan di wilayah DIJ cukup tinggi,” sambungnya.
Sementara di Kota Jogja, Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) setempat sudah menyiapkan langkah mitigasi. Ketua Tim Kerja Kedaruratan dan Logistik BPBD Kota Jogja Petrus Singgih Purnomo mengaku sudah mendirikan posko darurat di Jalan Tegalturi, Umbulharjo.
Posko tersebut berfungsi sebagai pusat koordinasi agar mempercepat penanganan kebencanaan. Sebab di musim penghujan ini bencana seperti rumah roboh, talud longsor, pohon tumbang menjadi ancaman.
“Begitu ada laporan masuk di posko, tim reaksi cepat (TRC) langsung menuju lokasi,” tegasnya. (inu/pra)
Editor : Heru Pratomo