Jogja Sleman Bantul Gunungkidul Kulon Progo Sport Jogja 24 Jam Weekend Jateng Nusantara Internasional Ekonomi Education Expo Ramadan Sosok Opini Visual Report Urban Legend

Tatap Pariwisata 2026, GIPI DIY Prediksi Perjalanan Pendek dan Waktu Singkat Jadi Favorit Wisatawan

Adib Lazwar Irkhami • Kamis, 1 Januari 2026 | 20:02 WIB
Wisatawan memilih baju batik sebagai oleh-oleh yang dijual di Pasar Beringharjo, Kota Jogja, kemarin (1/1). Perilaku wisatawan tahun ini diprediksi akan berubah, cenderung memilih perjalanan wisata
Wisatawan memilih baju batik sebagai oleh-oleh yang dijual di Pasar Beringharjo, Kota Jogja, kemarin (1/1). Perilaku wisatawan tahun ini diprediksi akan berubah, cenderung memilih perjalanan wisata

JOGJA - Lanskap pariwisata di Jogjakarta diprediksi mengalami perubahan pada tahun ini. Ketua Gabungan Industri Pariwisata Indonesia (GIPI) DIJ Bobby Ardiyanto Setyo Aji meminta agar pemerintah dan stakeholder terkait lebih bersiap.


Bobby mengatakan, perilaku wisatawan tahun ini akan berubah dipengaruhi tiga faktor utama. Yakni melemahnya perekonomian di Eropa Barat dan Amerika, situasi geopolitik dunia, dan menguatnya perekonomian Eropa Timur serta Asia Pasifik.


Ketiga faktor itu akan membuat perilaku wisatawan secara global di tahun 2026 lebih pragmatis. Yakni cenderung memilih perjalanan wisata jarak pendek dan waktu lebih cepat agar memangkas biaya. Namun dampak positifnya, bakal muncul pasar-pasar baru bagi Jogjakarta.


“Seperti wisatawan dari India, Eropa Timur dan negara-negara Asia Pasifik. Terutama yang memiliki direct flight (penerbangan langsung) ke Jogjakarta,” ujar Bobby kepada Radar Jogja Kamis (1/1).


Ia menekankan, di tahun 2026 frekuensi perjalanan wisatawan juga bakal lebih sering. Bisa mencapai dua kali perjalanan wisata dalam setahun. Berbeda dengan tahun sebelumnya yang hanya dilakukan sekali dalam setahun.


Menurutnya, perilaku wisatawan di tahun ini juga akan berubah pada pilihan destinasi yang bisa memberikan pengalaman baru. Terkhusus dari segi kualitas pelayanan dan kedalaman pengalaman yang ditawarkan pengelola destinasi wisata kepada wisatawan.


Selain itu, wisatawan juga akan lebih sensitif terhadap budget. Destinasi wisata yang menawarkan harga murah dan memberi pengalaman menyenangkan akan menjadi pertimbangan utama.
"Beberapa produk yang menawarkan nilai berbasis pengalaman seperti wellness tourism (wisata kebugaran), sport tourism, gastronomi, dan aktivitas tematik,” jelas Bobby.


Melihat berbagai kondisi itu, Bobby berpesan agar pemerintah dan stakeholder terkait lebih bersiap dan melakukan pembahasan lebih mendalam. Sehingga dinamika perubahan pola perjalanan dan segmentasi pariwisata selama satu tahun ke depan bisa lebih dipahami. "Harus siap secara program dan pelayanan, sehingga pariwisata DIJ lebih bisa adaptif dan inovatif,” pesannya. (inu/laz)

Editor : Herpri Kartun
#destinasi #Gabungan Industri Pariwisata Indonesia (GIPI) #insight #Wisatawan