Jogja Sleman Bantul Gunungkidul Kulon Progo Sport Jogja 24 Jam Weekend Jateng Nusantara Internasional Ekonomi Education Expo Ramadan Sosok Opini Visual Report Urban Legend

Sosok Ustaz Muhammad Jazir ASP di Mata Masyarakat dan Koleganya, Penghidup Masjid Jogokariyan Itu Pernah Pindahkan Angkringan agar Pemuda Mau Salat 

Adib Lazwar Irkhami • Selasa, 23 Desember 2025 | 03:38 WIB

 

 

DUKA: Suasana Masjid Jogokariyan yang menjadi rumah duka bagi Ustaz Jazir, Senin (22/12/2025).
DUKA: Suasana Masjid Jogokariyan yang menjadi rumah duka bagi Ustaz Jazir, Senin (22/12/2025).

JOGJA - Muhammad Jazir atau yang lebih dikenal dengan nama Ustaz Jazir ASP itu wafat Senin (22/12). Kiprahnya dalam membangun nama besar Masjid Jogokariyan menjadi kenangan tersendiri bagi para kolega dan masyarakat sekitar.

Suasana duka pun nampak menyelimuti Masjid Jogokariyan siang itu. Ratusan pelayat dari masyarakat biasa maupun kalangan pejabat, tampak memenuhi rumah ibadah umat muslim yang beralamat di Jalan Jogokaryan, Kemantren Mantrijeron, Kota Jogja itu. 

Ustaz Jazir meninggal dunia dalam usia 63 tahun, setelah melawan sakit di Rumah Sakit PKU Muhammadiyah Jogja sekitar pukul 05.00. Meski kini sudah tiada, kiprah tokoh muslim yang lahir di Jogja, 28 Oktober 1962 itu selalu hidup di benak masyarakat sekitar dan kolega.

Ketua Keluarga Alumni Remaja Masjid Jogokariyan (Kurma) Agus Triyanto mengenang bagaimana dulunya Ustaz Jazir mengajak anak-anak muda untuk beraktivitas di lingkungan masjid. Alih-alih memaksa dan memberikan ceramah, Ketua Dewan Syuro Masjid Jogokariyan itu justru memberikan pendekatan yang unik.

"Sama Ustaz Jazir angkringannya suruh pindah di masjid, biar nongkrongnya anak-anak itu di masjid," ujar Agus kepada Radar Jogja.

Menurutnya, hal yang dilakukan oleh Ustaz Jazir kala itu sesuai dengan filosofi dakwah. Lantaran membuat hati anak muda merasa nyaman dan senang berada di masjid. Sehingga aktivitas ibadah mengikuti secara otomatis.

Kesuksesan Ustaz Jazir membuat Masjid Jogokariyan sebagai pusat kegiatan anak muda berbuah dengan banyaknya inovasi kekinian.

Bahkan berkat manajemen yang visioner, masjid yang secara fisik tampak seperti masjid kampung pada umumnya, berhasil meraih prestasi sebagai masjid teladan tingkat nasional berkali-kali. 

"Dakwah yang dilakukan Ustaz Jazir terbukti mampu menembus batas-batas tradisional dan menjadi inspirasi bagi kemajuan umat Islam. Tidak hanya di Indonesia, tetapi juga dunia," tambah Agus.

Sementara bagi warga sekitar, tangan dingin Ustaz Jazir membuat Masjid Jogokariyan tidak hanya sebagai tempat kegiatan ibadah. Namun juga menjadi pusat kesejahteraan sosial bagi seluruh warga di sekitarnya.

Barwanto misalnya, pria yang sudah 15 tahun menjadi petugas keamanan Masjid Jogokariyan itu mengungkap, Ustaz Jazir menjadi pionir yang menggerakkan para jamaah masjid untuk lebih peduli dengan sesama. Sehingga menanam kebanggaan tersendiri bagi warga Jogokariyan.

Bentuk bantuan yang diberikan masjid pun sangat nyata dan menyentuh kebutuhan dasar. Misalnya, mengusahakan biaya rumah sakit bagi warga yang sakit. Lalu, santunan kematian bagi warga tidak mampu, dan memberdayakan masyarakat lewat unit-unit usaha masjid.

"Bantuan dan perhatian yang diberikan tidak terbatas pada umat muslim saja. Pihak masjid menunjukkan sikap saling menghargai dan menghormati tanpa membeda-bedakan latar belakang agama,” ungkap Barmanto.

Kiprah Ustaz Jazir pun menembus batas wilayah. Hal itu diakui Syamsudin Mulyono Hadi yang merupakan Takmir Masjid Raya Al-Muttaqun Prambanan.

Menurutnya, sosok Ustaz Jazir merupakan motivator bagi takmir di seluruh Indonesia. Sebab, dapat  memfungsikan masjid sebagai solusi semua permasalahan umat. 

“Baik solusi masalah sosial, ekonomi, maupun masalah-masalah yang dihadapi oleh masyarakat. Masjid tampil paling depan,” bebernya.

Putra keempat Ustaz Jazir, Haidar Muhammad mengatakan, ayahnya sempat berpesan agar masjid di Indonesia ini bisa terus mensejahterakan masyarakat. Sebab, masjid sejatinya bukan sebuah sekadar bangunan. Namun menjadi salah satu pondasi membangun peradaban.

"Bapak ingin kalau semua masjid itu bisa punya wakaf produktif. Sehingga infaq masjid tidak cuma habis untuk bangunan, tapi bisa digunakan untuk masyarakat," katanya.

Berpulangnya Ustaz Jazir juga menjadi duka mendalam Ketua Umum PP Muhammadiyah Haedar Nashir. Haedar menyebut, semasa hidupnya Ustadz Jazir dikenal sebagai kader Muhammadiyah yang gigih dan istiqamah dalam perjuangan persyarikatan.

"Almarhum adalah kader Muhammadiyah yang memiliki komitmen kuat dalam menggerakkan dakwah persyarikatan di tingkat akar rumput," ujarnya dalam keterangan tertulis yang diterima kemarin (22/12).

Disebutkan, Ustadz Jazir juga merupakan ketua Pimpinan Ranting Muhammadiyah (PRM) Jogokariyan.  Haedar menggambarkan almarhum sebagai sosok yang memiliki etos pengabdian yang sangat baik.

Perannya dalam membangun, mengembangkan, dan memakmurkan masjid sebagai pusat ibadah, dakwah, dan pemberdayaan umat terbukti diterapkan oleh banyak masjid lain di Indonesia, khususnya Jogja.

"Kiprahnya dalam membangun dan mengembangkan Masjid Jogokariyan menjadi teladan bagi gerakan masjid di Indonesia,” bebernya.

Dedikasi Muhammad Jazir ASP itu berdampak pada aspek ritual keagamaan, penguatan fungsi sosial, pendidikan dan pemberdayaan masyarakat melalui gerakan masjid.

Hal itu sejalan dengan misi Muhammadiyah dalam menjadikan masjid sebagai pusat pembinaan umat dan transformasi sosial.

 Menurutnya, Muhammadiyah cukup merasa kehilangan atas wafatnya Ustadz Jazir. Sebab, mengingat begitu besarnya peranan beliau dalam masyarakat maupun organisasi Muhammadiyah.

"Warisan keteladanan, semangat dakwah, dan pengabdian yang telah ditorehkan akan terus hidup dan menjadi inspirasi bagi generasi penerus," jelasnya. (inu/oso)

 

Editor : Herpri Kartun
#Masjid Jogokariyan #Muhammad Jazir ASP #PKU Muhammadiyah #Ustaz Jazir ASP #Ustaz Jazir meninggal dunia