SLEMAN - Para perempuan yang tergabung dalam gerakan Suara Ibu Indonesia menggelar aksi di Bundaran UGM, Senin (22/12/2025).
Mereka serempak menggunakan baju bernuansa putih. Massa turut membawa panci yang terus dipukul sepanjang aksi untuk menunjukkan protes terkait program makan bergizi gratis (MBG).
Ada berbagai poster yang menunjukkan keluhan mereka. Di antaranya, Aceh Belum Baik-baik Saja, Kerja yang Bener atau Kita Pecat, Pinter Dikit Please, hingga Ya Tuhan Pengen Beli Hutan.
Peserta aksi juga saling bergantian menyampaikan orasi, bernyanyi, hingga membacakan puisi.
Salah seorang peserta aksi, Rika Iffati Farihah menjelaskan, dana MBG banyak menyita hal yang lebih penting bagi bangsa Indonesia.
Terlebih, saat liburan sekolah programnya tetap berjalan. Orang tua harus mengambil MBG ke sekolah untuk seminggu ke depan.
Selain itu, kualitas MBG yang diberikan juga dinilai rendah. Lantaran mayoritas berupa makanan kemasan dan ultra processed food (UPF).
Ada juga yang mendapat roti langsung dalam jumlah banyak dan tidak mungkin habis dalam sehari.
Sementara jika disimpan dalam waktu lama jadi tidak layak makan. "Ini sesuatu yang menurut kami absurd. Sementara teman-teman di Sumatera lebih membutuhkan," terangnya saat ditemui di sela-sela aksi.
Program MBG juga banyak yang tidak tepat sasaran. Jika tujuannya menyejahterakan, sekolah-sekolah swasta justru ikut jadi sasaran.
Baca Juga: Libur Nataru, Pemkab Bantul Terapkan WFA untuk ASN, Terhitung sejak 29-31 Desember
Mestinya dialokasikan secara khusus untuk mereka yang membutuhkan. Dengan kata lain, MBG adalah program pemborosan anggaran.
Di sisi lain, para korban bencana dia sebut perlu dapat makanan dan transportasi yang layak. Khususnya bagi kelompok rentan yakni perempuan, anak, disabilitas, dan lansia yang memerlukan penanganan khusus.
"Kami tuntut moratorium MBG dan alihkan dananya untuk penanganan bencana," tegas wakil ketua Pimpinan Wilayah Fatayat Nahdlatul Ulama DIY ini.
Sementara itu, Rektor Universitas Islam Indonesia (UII) Fathul Wahid yang turut hadir menegaskan, sudah semestinya peristiwa di Sumatera menjadi bencana nasional.
Mengingat besarnya dampak kerusakan yang terjadi.
Sayangnya, semua yang terjadi seakan-akan hanya dinilai sebagai angka-angka saja. "Pada hari-hari terakhir, kita dipertontonkan dagelan yang tidak lucu dari para pejabat negara ketika bencana tidak dikelola secara semestinya," katanya. (del/laz)
Editor : Herpri Kartun