JOGJA - Memasuki libur Natal dan Tahun Baru (Nataru) permasalahan seperti praktik parkir nuthuk sering ditemukan, khususnya di Kota Jogja.
Untuk mengantisipasi, Pemprov DIY mengimbau wisatawan untuk memanfaatkan kantong parkir resmi milik pemmerintah supaya terhindar dari praktik nuthuk.
"Jika menginginkan kepastian tarif dan keamanan, kami mengimbau masyarakat parkir di tempat-tempat yang telah ditentukan pemerintah daerah,” ujar Sekretaris Provinsi (Sekprov) DIY Ni Made Dwipati Indrayanti Minggu (21/12/2025).
Pemprov hanya bisa melakukan monitoring terkait penerapan biaya parkir hanya di kantong parkir milik pemerintah.
Kebijakan tarif parkir juga telah diatur melalui Peraturan Wali Kota Jogja Nomor 149 Tahun 2020 sebagai turunan dari Perda Nomor 2 Tahun 2019.
Tempat khusus parkir (TKP) milik pemerintah, tarif parkir roda empat ditetapkan sebesar Rp 5.000 untuk dua jam pertama, kemudian mengalami penyesuaian sebesar 50 persen pada jam berikutnya.
"TKP swasta menerapkan tarif sesuai kebijakan masing-masing pengelola," tandasnya.
Ia juga menyinggung terkait pengaturan parkir di tepi jhalan. Ketentuan itu telah diatur secara rinci dalam Perda tentang Perparkiran.
Dalam aturan itu dituliskan terkait lokasi yang diizinkan untuk parkir serta mekanisme penegakan hukumnya.
"Pemkot Jogja telah menetapkan ruas-ruas jalan yang diperbolehkan untuk kegiatan parkir, sehingga tidak semua titik dapat digunakan sesuka hati,” tandasnya.
Beberapa lokasi yang parkir yang disediakan pemerintah yakni TKP Ketandan yang dapat menampung kendaraan roda dua maupun empat.
TKP Kentandan memiliki bangunan tiga lantai. Lantai pertama dapat menampung 117 motor dan 76 Mobil. Lantai dua menampung 84 motor dan 11 mobil. Lantai tiga khusus untuk motor, yakni sebanyak 334 motor.
Secara keseluruhan, daya tampung tahap pertama mencapai 535 motor dan 87 mobil. "Parkir Ketandan telah siap dimanfaatkan secara optimal oleh masyarakat,” katanya.
Pemkot Jogja juga tengah menyiapkan pengelolaan parkir roda empat di Kawasan Kridosono. Beberapa lokasi yanng telah dipersiapkan itu dapat dimanfaatkan masyarakat selama masa angkutan Nataru.
Made, sapaan akrabnya, juga meminta kepada masyarakat agar ikut melakukan pengawasan segala bentuk pelanggaran lalu lintas selama Natarru.
Sebab, pengawasan yang dilakukan Dinas Perhubungan tidak dapat dilakukan secara menyeluruh di setiap titik secara bersamaan.
“Kami berharap masyarakat semakin bijak dalam memilih lokasi parkir serta berpartisipasi dalam menjaga ketertiban perparkiran sehingga kenyamanan publik dan kualitas layanan wisata tetap terjaga,” jelasnya.
Terpisah, Ketua DPRD DIY Nuryadi juga menegaskan kepada pengelola parkir maupun pelaku usaha di bidang pariwisata agar tidak aji mumpung dengan mencaari keuntungan secara berlebihan.
Hal tersebut penting dilakukan agar para wisatawan tidak kapok untuk berkunjung ke Jogjakarta.
"Pada waktu kita mencari rezeki, itu bisa dengan baik, wajar-wajar saja. Sebaiknya kita kalau berdagang, ya sebaiknya pakai daftar harga, jangan nuthuk," ujarnya.
Menurutnya, nuthuk harga dinilai akan berimbas pada jangka panjang. Selain itu juga juga berpotensi merusak nama baik Jogjakarta khususnya dalam menjamu para wisatawan.
Kemudian pentingnya menjaga sikap dalam menyambut wisatawan. Menurutnya, keramahan warga menjadi salah satu daya tarik utama yang membuat wisatawan betah dan ingin kembali berkunjung.
"Artinya kita juga bisa menyapa dengan baik, bisa menerima dengan baik, bahkan momentum masyarakat yang datang di Jogjakarta itu tidak sekedar datang, tapi melihat, membeli, belanja, dan mungkin bisa menginap di sini," paparnya.
Sektor pariwisata menjadi tulang punggung dalam peningkatan perekonomian di DIJ. Sebab, tidak banyak sumber daya alam (SDA) yang bisa dimmanfaatkan secara optimal di DIJ. Ia meminta warga Jogja sebagai tuan rumah agar mau memberikan ruang bagi para wisatawan.
"Mudah-mudahan dengan keramahan kita, warga masyarakat Indonesia yang di luar Jogjakarta tidak hanya lewat, tapi bisa bertahan, bisa menginap. UMKM juga terangkat dengan kita menyiapkan diri untuk bisa menerima wisatawan dengan baik," bebernya.
Terkait potensi kepadatan lalu lintas, Nuryadi meminta agar warga bersabar dan menahan diri untuk tidak mengunjungi kawasan Kota Jogja, khususnya Malioboro. Sebab, lokasi tersebut menjadi objek wisata mayoritas kunjungan wisatawan.
"Sekarang sudah mulai macet ini, maka kita sebagai warga Jogjakarta, jika tidak penting sekali, sebaiknya nggak usah ke Malioboro. Kita ini sebagai tuan rumah. Bukan melarang, tapi kita berikan pada masyarakat yang di luar Jogjakarta untuk bisa menikmati Malaiboro dan sekitarnya," jelasnya. (oso/laz)
Editor : Herpri Kartun