JOGJA - Target pemerintah kota (Pemkot) Jogja untuk mengosongkan 14 depo hingga Rabu (10/12/2025) gagal tercapai.
Sejumlah depo masih penuh dengan gunungan sampah. Truk pengangkut sampah baru difokuskan untuk mengosongkan dua depo besar di Mandala Krida dan RRI Kotabaru.
Pantauan Radar Jogja hingga Rabu siang, sampah di Depo Argolubang dan Serangan tampak masih menumpuk.
Bahkan, di Serangan belum ada upaya pengangkutan. Sementara di Argolubang mulai ada truk yang mengambil sampah.
Wali Kota Jogja Hasto Wardoyo berdalih, pihaknya saat ini tengah fokus pada pengosongan dua depo besar di Mandala Krida dan RRI Kotabaru. Sementara 12 depo lainnya dibersihkan secara bertahap.
Hasto mengungkap, total sampah yang tertahan di depo mencapai dua ribu ton. Untuk Rabu (10/12/2025) ditargetkan sampah yang bisa terangkut ke Tempat Pembuangan Akhir (TPA) Piyungan sebesar 500 ton.
Kemudian di hari Senin (15/12/2025) akan diangkut 500 ton lagi, lalu Kamis (18/12/2025) dan Sabtu (20/12/2025) diharapkan terangkut 1.000 ton.
“Paling tidak dua ribu ton sampah sebelum tanggal 25 Desember sudah terangkut,” ujar Hasto saat ditemui di Jembatan Kewek.
Bupati Kulon Progo 2011-2019 itu menyatakan, langkah pengosongan depo juga dilakukan dengan optimalisasi armada truk di Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kota Jogja. Targetnya dalam sehari ada 100 kali pengangkutan sampah dari depo.
Hasto menjelaskan, skema 100 kali pengangkutan itu diterapkan dengan menambah intensitas pengangkutan.
Misal, saat ini DLH Kota memiliki 45 truk sampah yang mengangkut satu kali sehari, maka pengangkutan sampah dinaikkan menjadi dua kali sehari.
“Empat puluh lima dikali dua sudah 90. Lainnya masih bisa pinjam, karena kami juga punya truk kecil juga,” bebernya.
Baca Juga: Depak Coach Andri, Persiba Bantul Tunjuk Duet Yang Bawa Sumut United Juara Liga 3
Sementara itu, Ketua Satgas Depo DLH Kota Jogja Ning Nurani mengungkapkan, pembersihan satu depo minimal mengerahkan 30 kali pengangkutan truk sampah dengan kapasitas lima ton per hari.
Sementara untuk menjaga depo tetap bersih pascapengosongan, setidaknya membutuhkan 10 kali pengangkutan truk sampah.
Di samping ketersediaan armada, Nurani juga menekankan pentingnya pengurangan sampah dari sumbernya.
Sebab dengan belum adanya kesadaran masyarakat untuk memilah sampah, penumpukan depo akan terus berulang.
“Sosialisasi harus dilakukan secara masif, terutama menyasar tempat-tempat usaha yang berkontribusi besar membuang sampah,” tuturnya. (inu/wia)
Editor : Winda Atika Ira Puspita