Jogja Sleman Bantul Gunungkidul Kulon Progo Sport Jogja 24 Jam Weekend Jateng Nusantara Internasional Ekonomi Education Expo Ramadan Sosok Opini Visual Report Urban Legend

Novel Sejarah ‘Warisan 3 Kerajaan’, Penanggalan Saka Jadi Sorotan Utama

Magang Radar Jogja • Senin, 8 Desember 2025 | 03:44 WIB
MENGAMATI: Sesi Diskusi dan Bincang Sejarah Novel
MENGAMATI: Sesi Diskusi dan Bincang Sejarah Novel

JOGJA - Rayakan karya terbaru, Pustaka Nalar Buddhi gelar bincang santai seputar Novel berjudul ‘Warisan 3 Kerajaan’ karya Budi Murdono di Graha Sastra Ke Selatan, Sabtu (6/12/2025).

Novel ini menghadirkan latar kehidupan politik di Jawa Abad 7-8 dengan kisah berfokus pada tokoh Raja Sanjaya, pendiri Kerajaan Medang dan Kerajaan Mataram. Peserta diskusi berjalan hangat dengan semangat membahas seputar Sejarah terkait.

“Saya tertarik pada tokoh Sanjaya ini sejak SD dan sekolah dasar. Kemudian setelah selesai kuliah Serah jadi sarjana baru punya kesempatan lagi baca-baca buku sejarah kuno Di situ, nama Sanjaya muncul lagi, “ ungkap Budi memantik diskusi.
 
Baca Juga: Borobudur Tawarkan Harga Promo Rp 350 Ribu untuk Sunrise dan Sunset hingga Akhir Tahun
 
Dalam mengulik tokoh sejarah Sanjaya, Budi mengaku sedikit sekali sejarah bersangkutan yang membahasnya.
 
Ia mengaku sebenarnya tokoh di dalam novelnya ini sudah banyak beredar di internet maupun media sosial tapi hanya informasi sepintas dan kurang lengkap.
 
Ia lantas tertarik untuk merekonstruksi sejarah Sanjaya dalam bentuk novel sehingga pembaca dapat menikmati Sejarah dengan cara yang menarik.
 
Baca Juga: Astra Motor Yogyakarta Hadirkan Mini Launching Honda Vario125
 
“Karena saya bukan sejarawan, tidak saya rekonstruksi yang menurut kaidah-kaidah Sejarah. Saya rekonstruksikan sebagai novel supaya juga bisa menarik. Dari novel kita kan bisa menggambarkan emosi dari sejarah Semangat-semangat yang tidak ada di dalam penulisan Sejarah,” sambungnya.
 
Novel ‘Warisan 3 Kerajaan’ ini mendapat penghargaan sastra 2025 oleh Kemendikdasmen kategori Novel.
 
Secara garis besar, terdapat tiga bagian cerita yakni diawali dengan asal-usul kisah Sanjaya, bagian kedua bercerita tentang Sanjaya sebagai putra mahkota, dan kisah Sanjaya kala mendirikan Kerajaan Medang.
 
Baca Juga: Cleberson Souza Absen Lawan Persipal Palu karena Cedera, Fachruddin Aryanto Siap Diturunkan
 
Salah satu peserta diskusi, yakni Peri Mardiyono menyampaikan ketertarikannya pada penggunaan penanggalan Saka dalam Novel tersebut.
 
 
Menurutnya, aspek tersebut seakan semakin menghidupkan nuansa cerita zaman kuno yang ingin dihadirkan dalam novel.
 
“Dengan penanggalan Saka itu menunjukkan novel ini memang menggambarkan suasana zaman kuno,” ujar Peri.
 
Baca Juga: Van Gastel Puas dengan Duet Yusaku dan Franco Ramos, Lini Belakang PSIM Jogja Dianggap Aman
 
Berbeda dengan Peri, Sutopo menyampaikan kebingungannya pada Sejarah.
 
Baginya, sumber Sejarah yang beragam seringkali malah memunculkan kebingungan, terutama bagi kalangan umum seperti dirinya.
 
Kehadiran novel Sejarah dinilai dapat menghadirkan sisi hikmah, sehingga pembaca tidak hanya berfokus pada alur cerita tapi juga mendapatkan pembelajaran dari Sejarah.
 
Baca Juga: Tidak Hanya Kewek, Jembatan Sardjito dan Muja Muju Sisi Utara Juga Butuh Perhatian
 
“Generasi sekarang jarang mengenal tokoh-tokoh lama. maka novel seperti itu memang perlu,” ungkap Sutopo.
 
Menanggapi hal tersebut, Budi mengakui memang ia menghadirkan novel karyanya ini sebagai sebuah pemantik.
 
Meskipun dituliskan secara subjektif, ia berharap novel tersebut merangsang pembacanya untuk semakin tertarik mengulik Sejarah.
 
Baca Juga: Ansyari Lubis Tak Mau Pikirkan Hukuman tanpa Penonton dari Komdis PSSI
 
Dalam novel ini, Ia ingin menyuguhkan sisi dimana kekuasaan tidak selamanya dengan perang, tapi dari Kisah Sanjaya dan Kerajaan Medang pembaca dapat mengambil aspek peran penting diplomasi dan persuasi dalam kekuasaan.
 
“Saya membuatnya dalam bentuk novel. Pendekatannya tidak semata-mata Sejarah, lebih ke estetika. Sejarah kalau dibahas secara ilmiah banyak perbedaan, makanya baca novel saja,” pungkas Budi. (Salwa Mutia)
Editor : Winda Atika Ira Puspita
#novel sejarah #kehidupan politik