Jogja Sleman Bantul Gunungkidul Kulon Progo Sport Jogja 24 Jam Weekend Jateng Nusantara Internasional Ekonomi Education Expo Ramadan Sosok Opini Visual Report Urban Legend

Dosen Teknik Sipil UII Soroti Genangan di Jalan-Jalan Besar Yogyakarta Akibat Drainase Tertutup dan Tak Terawat

Fahmi Fahriza • Senin, 1 Desember 2025 | 04:33 WIB
Pradipta Nandi Wardhana (Dosen dan pengamat Teknik Sipil UII)     Akibat Drainase Tertutup dan Tak Terawat   
Pradipta Nandi Wardhana (Dosen dan pengamat Teknik Sipil UII)   Akibat Drainase Tertutup dan Tak Terawat  

JOGJASejumlah ruas jalan besar di wilayah DIY seperti Jalan Wates, kawasan Ring Road Utara, hingga Jalan Magelang dalam beberapa waktu terakhir kerap tergenang ketika hujan deras. Fenomena ini kembali memantik sorotan mengenai kondisi drainase kota yang dinilai tidak sejalan dengan pesatnya perkembangan wilayah.

Dosen sekaligus pengamat teknik sipil Universitas Islam Indonesia (UII) Pradipta Nandi Wardhana menilai, persoalan genangan di jalur-jalur strategis itu bukan semata karena curah hujan tinggi. Melainkan akumulasi masalah drainase yang sudah berlangsung lama.

Menurutnya, Jogja sebenarnya memiliki kemiringan tanah yang baik dan jaringan sungai yang cukup untuk mengalirkan air. Namun fungsi drainase di lapangan banyak terhambat.

"Ring Road Utara di Jogja itu sebenarnya sudah punya drainase. Tapi banyak selokan di pinggir jalan dipakai untuk usaha, sehingga saluran tidak bisa dibersihkan," ujarnya (30/11/2025).

Ia menambahkan, banyak saluran yang ditutup pelat secara permanen, sehingga petugas akhirnya juga kesulitan melakukan perawatan.  "Salurannya tidak bisa dibuka dan dibersihkan. Sampah, pasir, dan tanah menumpuk. Dan itu membuat air tidak bisa masuk ke saluran," katanya.

Pradipta menyoroti kawasan Condongcatur, Sleman, sebagai salah satu contoh wilayah yang mengalami tekanan pembangunan cukup masif. Ia menyebut area itu kini terlalu padat, sehingga ruang resapan air semakin berkurang.

"Condongcatur itu terlalu padat. Resapan dan drainasenya diganti tutupan lahan yang tidak meresapkan air. Akhir-akhir ini sering banjir karena akumulasi masalah dari dulu-dulu," tuturnya.

Ia juga menilai, pembangunan cepat di kawasan sekitar Maguwoharjo turut memberi tekanan pada kapasitas topografi alami daerah itu. Ditambah lagi kesadaran masyarakat untuk membuat sumur resapan masih rendah.

"Disuruh bikin sumur resapan, masyarakat juga tidak bikin. Akhirnya mudah banjir karena resapannya tidak ada," kata Pradipta.

Menurutnya, persoalan drainase yang tertutup dan tidak terawat ini berpengaruh langsung terhadap kondisi jalan. Genangan yang berulang membuat kualitas aspal cepat menurun.  "Genangannya jelas berpengaruh, membuat aspal mengelupas dalam jangka panjang," tegasnya.

Pradipta menjelaskan, kondisi di Ring Road Selatan relatif lebih baik ketimbang Ring Road Utara. Selain mobilitas lebih tinggi, area industri dan UMKM yang padat di wilayah utara menyebabkan potensi limpasan air makin besar.

Ia juga menyinggung keberadaan Sungai Gajah Wong dan Tambakboyo yang semestinya dapat membantu aliran air. Namun fungsi itu tidak optimal karena saluran penghubungnya bermasalah.

Pradipta menilai, salah satu akar masalah ada pada perencanaan tata kota, yang tidak berkembang secepat pembangunannya. "Kita tidak punya perencanaan tata kota yang baik sedari awal. Infrastruktur yang ada tidak match dengan perkembangan kawasan," ucapnya.

Sebagai langkah awal, ia menegaskan pentingnya membuka kembali saluran air yang kini tertutup.  "Solusinya, saluran dibongkar dan dibersihkan dulu. Saya curiga banyak sampah yang menumpuk di dalam saluran itu," katanya. (iza/laz)

 

Editor : Herpri Kartun
#aspal #Pradipta Nandi Wardhana #Universitas Islam Indonesia (UII) #Yogyakarta 1 #Universitas Islam Indonesia Yogyakarta #Universitas Islam Indonesia (UII) Sleman #Hujan #genangan air #Sampah #Maguwoharjo #Universitas Islam Indonesia #Jalan Wates #condongcatur #UMKM #sungai