YOGYAKARTA — Badan Gizi Nasional (BGN) menegaskan bahwa Indonesia masih sangat bergantung pada impor protein hewani, khususnya susu dan daging sapi.
Hal tersebut mengemuka dalam Focus Group Recommendation: Rantai Pasok Inklusif Susu dan Protein MBG yang digelar BGN bersama KADIN DIY di Hotel D’Senopati, Yogyakarta, Jumat (28/11/2025).
Tim Pakar BGN Bidang Susu Epi Taufik menjelaskan bahwa 80 persen kebutuhan susu nasional masih dipenuhi dari impor, sementara 52 persen daging sapi juga berasal dari luar negeri.
Kondisi ini disebutnya sebagai hambatan utama bagi keberlanjutan Program Makan Bergizi Gratis (MBG). “Ayam dan telur relatif aman, tapi susu dan sapi masih sangat kurang. MBG jangan sampai membuat impor makin besar,” ujar Epi.
Ia mengatakan rendahnya kecukupan protein hewani Indonesia berkaitan dengan kualitas sumber daya manusia. Indonesia tercatat memiliki konsumsi protein hewani terendah di ASEAN, dan indikator seperti wasting, skor PISA, hingga IQ nasional tertinggal dibanding negara tetangga.
“Kita memang menghadapi defisit protein hewani, dan dampaknya langsung terlihat pada kualitas manusia,” jelasnya.
Dalam forum tersebut, perusahaan teknologi pangan Malaysia Ultimeat (M) Sdn Bhd menawarkan microprotein berbasis singkong dan gula sebagai sumber protein alternatif yang dapat diproduksi sepenuhnya di dalam negeri.
Founder sekaligus CEO Ultimeat Edwin Lee, menegaskan bahwa seluruh bahan baku dapat diserap dari petani lokal. “Tidak ada impor bahan sama sekali. Semua bisa diproduksi di Indonesia,” kata Edwin.
Microprotein Ultimeat dijual di kisaran US$3,5 per kilogram atau sekitar Rp56.000, jauh lebih murah dibanding harga rata-rata ayam (Rp40.000–60.000/kg), daging kambing (Rp120.000–140.000/kg), dan daging sapi (Rp130.000–160.000/kg).
Edwin menjelaskan bahwa harga microprotein relatif stabil karena berbasis fermentasi dan tidak bergantung pada fluktuasi pakan, cuaca, atau siklus panen ternak. “Harga ayam dan sapi naik-turun, tapi microprotein sifatnya konsisten dan bisa diproduksi dalam tujuh hari,” ujarnya.
Ultimeat merencanakan pembangunan dua pabrik besar di Lampung dan Malang, dan skala lebih kecil (10 persen skala) di Yogyakarta dengan total investasi mendekati Rp10 triliun.
Setiap pabrik, kecuali di Yogya, dirancang menyerap dua juta ton singkong dan satu juta ton gula per tahun. Edwin menyebut bahwa untuk tahap awal, perusahaan hanya membutuhkan serapan 15.000 ton microprotein per tahun, sementara kapasitas penuh mencapai lebih dari 120.000 ton.
Untuk langkah awal sebelum masuk ke rantai pasok MBG, Ultimeat akan mengirim 9 ton microprotein untuk uji coba di 30 SPPB di Yogyakarta, Pemalang, dan Malang.
Produk tersebut diberikan gratis selama dua hari dalam dua pekan sembari menunggu penyelesaian izin. “Kami ingin memastikan dapur MBG dan anak-anak bisa mencicipi langsung,” ujar Sam Kin Kit, Finance Director Ultimeat.
Edwin menegaskan bahwa meski MBG bisa menjadi jangkar permintaan, Ultimeat tetap menyiapkan penjualan komersial ke retail modern, industri makanan olahan, hingga sektor horeca.
“Tujuannya adalah membangun industri protein domestik yang stabil dan berkelanjutan,” katanya.
Sebagai catatan penutup, Epi Taufik menekankan bahwa keberhasilan penggunaan protein alternatif bergantung pada penerimaan rasa oleh anak-anak sebagai penerima manfaat utama MBG.
Dia menyarankan uji coba dilakukan secara menyeluruh. “Harga penting, tapi yang menentukan tetap apakah anak-anak mau makan. Uji rasa itu wajib sebelum masuk skala nasional,” tegasnya.
Editor : Heru Pratomo