JOGJA - Potensi cuaca ekstrem masih menjadi ancaman bagi wilayah Yogyakarta. Sadar dengan hal tersebut, Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kota Jogja telah mengajukan perpanjangan status siaga darurat.
Ketua Tim Kerja Pencegahan dan Kesiapsiagaan BPBD Kota Jogja Darmanto mengatakan, perpanjangan status siaga darurat telah diajukan kepada kepala daerah. Terhitung dari tanggal 1 hingga 31 Desember 2025 mendatang.
Dia mengungkap, status siaga darurat di Kota Jogja sejatinya sudah berlaku dari tanggal 1 hingga 30 November 2025.
Namun karena potensi cuaca ekstrem masih mengancam, pengajuan perpanjangan pun dilakukan.
“Saat ini proses pengajuan perpanjangan, sehingga masih menunggu keputusan wali kota (kepwal)-nya terbit,” ujar Darmanto saat dikonfirmasi lewat pesan singkat, Rabu (26/11/2025).
Menurutnya, berdasar keterangan dari Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) Yogyakarta hujan deras yang disertai angin kencang masih berpotensi terus terjadi.
Baca Juga: Van Gastel Santai Ze Valente Absen Bela PSIM Jogja saat Tandang Lawan Persija Jakarta di SUGBK
Kondisi itu membuat potensi bencana seperti banjir, pohon tumbang dan talud longsor semakin besar. Terlebih di kawasan bantaran sungai dan permukiman.
Darmanto menyebut, perpanjangan status siaga darurat juga diperlukan karena melihat banyaknya bencana dari cuaca ekstrem selama satu tahun terakhir.
Sebab terhitung dari bulan Januari hingga November pihaknya telah mencatat ada 225 kejadian bencana.
“Dampak bencana bervariasi, ada pohon tumbang dahan patah, hingga, rumah rusak,” jelasnya.
Baca Juga: Bansos Dikurangi, Mamin Rapat Bupati dan DPRD Dibiarkan
Sementara itu, Kepala Stasiun Klimatologi BMKG Yogyakarta Reni Kraningtyas mengungkapkan, curah hujan di bulan November melebihi 500 mm/bulan atau masuk kriteria menengah-sangat tinggi.
Intensitas hujan dimungkinkan semakin tinggi mendekati akhir hingga awal tahun.
Peningkatan curah hujan di akhir tahun itu disebabkan karena aktifnya angin baratan atau monsun Asia.
Selain itu juga dipengaruhi mulai adanya Madden Julian Oscillation (MJO) di wilayah Indonesia bagian timur.
“Kami menghimbau masyarakat tetap siaga karena puncak musim hujan 2025/2026 diprediksi jatuh pada Januari dan Februari,” bebernya. (inu)
Editor : Winda Atika Ira Puspita