JOGJA - Wali Kota Jogja Hasto Wardoyo mengeluarkan surat edaran yang intinya melarang operasional kendaraan roda tiga.
Tujuannya melindungi kendaraan tradisional sepert becak kayuh dan andong. Bagaimana kini eksistensi becak dan andong di Jogja di tengah masifnya kendaraan umum modern ?
Pemkot Jogja sebelumnya menggembar-gemborkan tentang pelestarian moda transportasi tradisional. Namun faktanya, para tukang becak kayuh sendiri mengaku tidak pernah mendapat perhatian.
Hal itu diungkapkan Hari Wartono, tukang becak kayuh yang beroperasi di wilayah Stasiun Lempuyangan Jogja.
Ia menyebut tidak pernah ada program yang menyentuh langsung kepada para tukang becak. Yang ada hanya pendataan surat izin operasional becak.
"Selama ini cuma didata saja. Kalau program-program yang berdampak pada kami, tidak pernah ada,” ujar Hari saat ditemui Radar Jogja, Minggu (23/11/2025).
Dia mengatakan, jika pemerintah ingin konkret membantu para tukang becak kayuh seharusnya sejak lama sudah melarang becak motor (bentor).
Lantaran kendaraan modifikasi roda tiga bermotor itu merupakan saingan utama becak kayuh. Terkhusus dalam menggaet penumpang dari kalangan wisatawan.
Pria 56 tahun ini heran terhadap pemerintah karena selama ini membiarkan bentor yang notabene kendaraan ilegal.
Sementara becak kayuh yang merupakan kendaraan resmi dan terdata di Dinas Perhubungan (Dishub), justru tidak pernah dibuatkan program khusus.
"Sekarang kami sangat sulit bersaing dengan bentor. Wong sehari saja paling cuma dapat Rp 18 ribu. Beda dengan bentor yang bolak-balik bawa penumpang,” ungkap Hari.
Baca Juga: Pemain PSS Sleman Cleberson Souza Alami Cedera setelah Lawan Deltras FC
Keluhan senada dirasakan oleh tukang becak kayuh lain bernama Sukardi. Pria 69 tahun itu meminta agar para tukang becak kayuh bisa mendapatkan perhatian lebih. Misalnya, harus mewajibkan wisatawan untuk menggunakan moda transportasi tradisional.
Ia menyebut, kebijakan itu bisa dilakukan pemerintah dengan mencontoh negara lain seperti di Jepang. Negeri sakura itu dapat memaksimalkan becak yang ditarik oleh manusia (rickshaw) untuk transportasi wisatawan.
"Kalau di Jogja ini kami dibiarkan. Mau dapat atau tidak dapat penumpang, ya kami usaha sendiri,” ungkap pria kelahiran Solo, Jawa Tengah, ini.
Penuturan berbeda justru disampaikan salah seorang kusir andong, Iskandar Muda. Ia yang asal Druwo, Bangunharjo, Sewon, Bantul dan biasa mangkal di Malioboro ini menepis anggapan masifnya kendaraan umum modern mematikan mata pencaharian kusir andong.
Menurutnya, andong memiliki dunianya sendiri yang tidak bersinggungan langsung dengan transportasi massal atau transportasi berbasis aplikasi online. Penumpang andong bukan orang yang memburu waktu, melainkan mereka mencari pengalaman.
"Itu tidak berpengaruh. Pendapatan saya juga tidak menurun selama ini," ungkapnya saat ditemui Radar Jogja, Minggu (23/11/2025).
Iskandar menjelaskan, selain untuk mencari pengalaman di Jogja, para penumpang andong merupakan orang-orang yang memang sudah berniat sejak awal. Kalau orang itu sudah niat, maka orang itu pasti pengen naik andong. Kalau tidak niat, cuma pada tanya.
"Kebanyakan penumpang itu naik andong untuk menyenangkan anaknya. Ada juga yang sekadar ingin bernostalgia," katanya.
Disinggung adanya transportasi lain yang berlomba memperbarui armada menjadi lebih canggih, bagi Iskandar andong justru memilih jalan sebaliknya.
Sebab, menurut pria 31 tahun ini, ke depan andong tetap tidak melakukan upgrade atau modernisasi fisik secara signifikan. Alasannya sederhana, kekunoan adalah daya tarik utama.
"Karena itu juga merupakan daya tarik di kawasan Malioboro dan Jogjakarta. Itu alat transportasi zaman dahulu dan menurut saya tidak akan hilang," tandasnya optimistis.
Diakui Iskandar, andong saat ini sudah kalah dari segi teknologi dengan transportasi modern, tetapi para kusir tetap akan bertahan dengan cara konvensional.
Baca Juga: Ansyari Lubis Pertanyakan Beberapa Keputusan Wasit di Laga PSS Melawan Deltras FC
Berbeda dengan ojek online (ojol) yang mencari penumpang lewat notifikasi di layar, para kusir andong justru menunggu penumpang dengan sabar.
"Namanya andong itu rezeki dan nasib. Soalnya andong itu disamperin dan tidak cari pelanggan. Malah dicari pelanggan," ungkapnya.
Meski begitu, ia tetap mengaku punya kekhawatiran tersendiri untuk transportasi andong. Bukan berasal dari persaingan bisnis, melainkan dari kebijakan pemangku kepentingan.
"Saya tidak tahu besok kebijakan dari pemerintah seperti apa untuk andong. Apakah akan dihilangkan, atau tetap dipertahankan di Jogjakarta," tandasnya. (inu/ayu/laz)
Editor : Herpri Kartun