JOGJA - Kalurahan Banaran, Galur, Kulon Progo yang disebut-sebut punya jejak sejarah dengan deklarasi Pangeran Mangkubumi sebagai Susuhunan Kabaranan pada 11 Desember 1749 sehingga menjadi dasar perubahan nama Jembatan Pandansimo menjadi Jembatan Kabaran, masih menjadi perdebatan.
Sebab, catatan sejarah perjuangan Mangkubumi memimpin perang Mangkubumen selama sembilan tahun dari 1746-1755 belum pernah mendirikan markas perjuangan di daerah pesisir selatan. Kalurahan Banaran, Galur, Kulon Progo, lokasinya menghadap ke arah Pantai Selatan Jawa atau Samudera Indonesia.
“Dari penelitian yang kami lakukan, yang dimaksud Desa Kabanaran atau Banaran lebih mengarah ke Nanggulan hingga Kokap. Sama-sama di Kulon Progo tapi wilayah tengah, bukan selatan,” ujar dosen Program Studi Fakultas Sastra Universitas Sanata Dharma (USD) Jogja Galih Adi Utama Jumat (21/11).
Galih secara khusus menulis tesis tentang perjuangan Mangkubumi. Judulnya “Gelar dan Nama Kontestasi Politik Sultan Hamengku Buwono I 1749-1790.” Dari tesis itu dia mengadakan kajian tentang kiprah Mangkubumi. Sejak berjuang memimpin Perang Mangkubumen 1746-1755 hingga bertakhta sebagai raja pertama Kasultanan Ngayogyakarta Hadiningrat.
Soal Desa Kabanaran di sekitar Nanggulan dan Kokap itu diperkuat dengan sejumlah toponim. Ada dua desa di wilayah itu dengan nama Banaran. Galih juga melihat antara Nanggulan-Kokap letaknya tidak begitu jauh dengan kawasan Gunung Gamping. Kelak setelah meneken Perjanjian Giyanti 13 Februari 1755, Mangkubumi diangkat VOC sebagai raja dengan gelar Sultan Hamengku Buwono I.
Wilayahnya separo dari Mataram. Pusat kerajaannya berada di Hutan Bering. Selama pembangunan Ibu kota Keraton Ngayogyakarta (IKN), Mangkubumi beserta pengikutnya untuk sementara waktu mesanggrah di Gunung Gamping. “Mangkubumi mendirikan Pesanggrahan Ambarketawang,” terangnya.
Pesanggrahan Ambarketawang ditinggali selama hampir setahun dari 1755 hingga 1756. Berdasarkan penelitian Galih, tidak mungkin Mangkubumi memilih Ambarketawang tanpa lebih dulu mengadakan survei. Penentuan lokasi Ambarketawang tidak berjarak lama dengan penobatannya di luar istana Mataram sebagai Susuhunan Paku Buwono III. Hanya selisih enam tahun. Dari 1749 ke 1755.
Penobatan Mangkubumi dilakukan di Desa Kabanaran. Karena itu, putra Sunan Amangkurat IV dengan garwa selir Mas Ayu Tejawati itu juga populer dengan sebutan Sunan Kabanaran. Petunjuk soal Desa Kabanaran juga diperoleh Galih dari beberapa buku yang ditulis M.C Ricklefs. Antara lain Sejarah Nasional Indonesia Modern, Yogyakarta di Bawah Sultan Sultan Mangkubumi 1749-1792 dan buku Sambernyawa, Kisah Perjuangan Pahlawan Nasional Indonesia, Pangeran Mangkunegara I (1726-1795).
“Dari tiga buku itu yang paling lengkap petunjuknya ada di buku Sambernyawa. Desa Kabanaran ada di barat Mataram atau Jogja sekarang,” kata dosen yang menamatkan pendidikan menengah di SMAN 9 Jogja ini.
Galih juga mengungkapkan informasi yang selama ini jarang diketahui publik. Meski sudah meneken Perjanjian Giyanti dan menjadi raja, Mangkubumi enggan memakai sebutan Sultan Hamengku Buwono I. Tapi memakai gelar Sultan Paku Buwono.
Gelar itu dipakai selama 15 tahun. Sejak 1755 hingga 1770. Itu terungkap dalam beberapa korespondensi dan Serat Bumi Pasinten. “Dokumennya tersimpan di Arsip Nasional Belanda,” bebernya.
Di masa itu, cerita Galih, gelar Paku Buwono memiliki pamor yang tinggi. Sebagai raja baru pecahan Mataram, Mangkubumi ingin menggunakan nama Paku Buwono. Namun terkendala gelar itu sudah dipakai Susuhunan Paku Buwono III di Surakarta.
Terpisah, Ketua Paguyuban Sejarawan Ngayogyakarta Chatarina Etty Sulistya Harsini kembali membeberkan Desa Banaran, Galur, Kulon Progo, baru muncul di era Paku Alam V yang naik takhta pada 10 Oktober 1878.
Saat itu daerah pesisir Kulon Progo berupa rawa-rawa. Kemudian berhasil diubah menjadi lahan pertanian yang subur. Nama awalnya Kadipaten Karangkemuning beribukota di Brosot. Kemudian diganti nama menjadi Kadipaten Adikarta dengan ibu kota di Bendungan.
Meski diangkat sebagai adipati di era Inggris, wilayah yang diberikan kepada Pangeran Notokusumo atau Paku Alam I belum pasti. Semula ada di Grobogan. Kemudian beralih ke Kedu. Kepastian baru diperoleh pada era Paku Alam II pada 1831. Wilayah Pakualaman di selatan Kulon Progo di antara Sungai Progo dan Sungai Bogowonto.
“Di era perjuangan Pangeran Mangkubumi, belum ada nama Desa Banaran atau Kabanaran di daerah Brosot,” terang Rina, sapaan akrabnya. Soal lokasi Desa Banaran tempat jumenengan Sunan Kabanaran, Rina tetap meyakini berada di bumi Sukawati, Sragen. “Ada pengaruh atau perebutan hegemoni,” cerita guru sejarah sebuah SMA di Sleman ini. (oso/kus/laz)